Berlin, 7 Oktober 2012

 

Demonstrasi di depan kantor Kanselir Jerman:

Semakin banyak pesanan alutsista Jerman dari Indonesia

oleh Alex Flor, Watch Indonesia!


Sekitar 50 warga Indonesia dan Jerman yang menyatakan diri sebagai Aliansi Masyarakat Indonesia Anti Perdagangan Senjata berdemonstrasi pada tanggal 5 Oktober di depan kantor Kanselir Jerman, yang mana ditanggal ini Indonesia merayakan hari ulang tahun (HUT) TNI. Mereka berdemonstrasi dengan plakat/poster dan spanduk yang menyerukan ketidaksetujuan akan penjualan senjata dari Jerman ke Indonesia sekaligus mengkritik ketidakterbukaan pemerintah Jerman akan penjualan senjata tersebut.
 

Dengan sikap kritis yang semakin tajam, para antisipan/demonstran penjualan senjata ini mengikuti perkembangan kerja sama antara Jerman dan Indonesia khususnya di bidang industri persenjataan. Salah satu tema kontras yang berhubungan dengan kedatangan Kanselir Jerman, Angela Merkel di Indonesia pada awal Juli tahun ini adalah tentang penjualan senjata dari Jerman ke Indonesia. Pemerintah Jerman berusaha menutupi tentang kebenaran tersebut sedangkan di media Indonesia, topik ini menjadi topik hangat: Penjualan 103 buah tank berseri Leopard 2A6 yang merupakan bekas dari tentara Jerman ke Indonesia. Sebelumnya, pemerintah Indonesia berusaha untuk membeli senjata ini dari negara Belanda. Namun usaha ini gagal setelah parlemen Belanda menolak permintaan pemerintah Indonesia tersebut dengan alasan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang masih banyak terjadi di berbagai daerah Indonesia misalnya di Papua.

Sebaliknya, pemerintah Jerman melihat pelanggaran HAM yang masih terjadi di Indonesia bukan sebagai alasan untuk tidak menjaling hubungan jual-beli senjata dengan Indonesia. Dengan penuh rahasia dan hati-hati, perjanjian atau kontrak jual-beli senjata pun dilakukan oleh kedua belah pihak. Jerman berusaha menutup-nutupi perjanjian tersebut, bukan hanya dari media melainkan juga dari anggota parlemen Jerman sendiri. Ironisnya, para politikus dan militer di Indonesia dengan rasa bangga yang tinggi berkoar-koar tentang keberhasilan dan ketangguhan mereka yang mampu membeli senjata militer dari luar negeri - sebut saja negara seperti Spanyol, Perancis, Rusia, Polandia, AS, Brasil, Korea Selatan dll. adalah negara yang termasuk dalam daftar pengekspor senjata ke Indonesia.

Anggota parlemen Jerman sendiri baru mengetahui tentang praktek jual-beli senjata Jerman ke Indonesia, bukan dari pemerintah Jerman, melainkan dari media Indonesia. Mereka berusaha menanyakan kebenaran tersebut kepada pemerintah Jerman, namun hanya jawaban tidak pasti yang mereka dapatkan. Pemerintah Jerman tetap berusaha menutupi kebenaran tersebut dengan alasan bahwa penjualan senjata dari Jerman ke Indonesia belum tentu dilakukan. Tetapi akhirnya kebenaran pun terkuak. Beberapa waktu lalu telah diketahui bahwa bukan hanya 103 tank tipe Leopard yang akan dikirim ke Indonesia, melainkan juga 50 buah tank berseri Marder 1A3. Tank seri ini pun merupakan tank bekas tentara Jerman. Beberapa hari kemudian, protes jual-beli senjata di depan kantor kanselir Jerman di Berlin pun akhirnya diserukan:. „Kemungkinan bahwa perjanjian-perjanjian lain jual-beli senjata antara Indonesia-Jerman sangatlah besar“. Kemungkinan tersebut dibuktikan dengan dengan berita yang dimuat oleh salah satu tv swasta di Indonesia, tvOne yang memberitakan bahwa Indonesia telah memesan 18 pesawat latihan militer dari salah satu perusahaan bernama Grob yang terletak di Jerman Selatan dengan dana 72 juta Dolar yang sudah dipersiapkan, di mana 6 dari pesawat itu sdh dalam proses produksi. Selain itu perjanjian pembelian 3 Light Frigate dari perusahaan Lürssen yang terletak di kota Bremen masih dalam tahap proses. Tahap ini dipercaya akan diselesaikan dengan cepat, mengingat direktur perusahaan Friedrich Lürssen sendiri merupakan konsul kehormatan Indonesia di Bremen.

Walaupun dalam cuaca yang tidak bersahabat, sekitar 50 perwakilan „Aliansi Masyarakat Indonesia Anti Perdagangan Senjata“, yang merupakan sebuah persatuan yang terdiri bukan hanya warga negara Indonesia, melainkan juga warga negara Jerman bersama dengan organisasi lain seperti attac dan Gossner Mission menyerukan aspisari dan kritik mereka di depan kantor Kanselir Jerman, Berlin.

„Pendidikan, bukan senjata!“ itulah salah satu seruan yang ditulis di atas spanduk oleh para demonstran. Bagi banyak warga negara Indonesia, dana jutaan Dollar yang diinvestasikan untuk pembelian senjata bukanlah hal yang masuk akal, disaat jutaan warga Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan, jutaan warga Indonesia tidak mampu mengenyam pendidikan dan juga tidak mampu membayar pelayanan kesehatan.

Para demonstran mengkritisi pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua serta hak-hak dari kaum minoritas. Gambaran sebuah Indonesia yang dielu-elukan di negara barat, yaitu Indonesia yang berdemokrasi setelah kediktaturan di tahun 1998 dihancurkan, adalah hanya sebuah ilusi semata. Sebelum akhirnya bencana tsunami melanda Aceh 2004 yang sekaligus mengakhiri keadaan perang saudara di provinsi tersebut, pelanggaran hak asasi manusia adalah sebuah hal yang biasa. Tapi pelanggaran HAM tidak cuma terjadi di Aceh. Aktivis HAM, Munir, meninggal di pesawat terbang menuju Amsterdam akibat keracunan arsen. Selain itu, di Papua misalnya, masih banyak warga negara „demokrasi“ ini yang menjadi korban pelanggaran HAM hingga detik ini. Mereka mengalami penyiksaan, kekerasan, bahkan ditembak mati tanpa sebab.

Para pelaku pelanggaran HAM banyak berasal dari kalangan militer. Dan ironisnya, sampai sekarang, tidak ada seorangpun dari para pelaku yang dihukum di pengadilan sipil.

5 Oktober, hari TNI, adalah hari nasional di Indonesia. Kami mengucapkan selamat dengan sebuan seruan dan protes di depan kantor Kanselir Jerman di Berlin.

Hentikan penjualan senjata ke Indonesia!
Akhiri ketidakterbukaan pemerintah Jerman!
Pendidikan, Kesehatan, Kesejahteraan untuk SELURUH warga Indonesia!
Demi Hak Asasi Manusia dan Supremasi Hukum!
 

Foto: www.watchindonesia.org/Gallery/Gallery.htm#Panzer
Video: >http://www.youtube.com/watch?v=28NrhqmjJXI&feature=channel&list=UL
 

 
Zurück zur Hauptseite Watch Indonesia! e.V. Back to Mainpage