Layanan Informasi Indonesia dan Timor Timur,

No. 29, Pertengahan Juli- September 2004

Daftar Isi

Dari kerja ornop:


Acara dan Pertemuan:

Kerja Pers dan Pelobian:


Laporan dan Publikasi:

 

Catatan pinggir:


Dari kerja ornop:
Acara dan Pertemuan:
 

Rapat EMS: "Indonesia: Demokrasi ronde ke-2", Arnoldshain, 9 -11 Juli 2004

"Kita aktifkan tradisi Indonesia – bikin “general elections” jadi “General's election”, gurau aktivis HAM dan demokrasi George Aditjondro menanggapi pencalonan Jendral purn. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk pemilihan presiden tanggal 20 September tahun ini. Hal tersebut disampaikan ditengah pertemuan EMS (Lembaga Misionaris Jerman bagian Barat Daya) yang pelaksanaannya merupakan hasil kerjasama dengan Evangelische Akademie Arnoldshain (Akademi Kristen Protestan Arnoldshain). Pertemuan dihadiri beberapa pakar politik dan juga wakil pemerintahan. Mengamati perkembangan situasi politik di Indonesia kini, peserta pertemuan memikirkan beberapa skenario politik untuk waktu mendatang. Pencalonan Megawati Sukarnoputri dan Yudhoyono oleh hampir semua peserta pertemuan dilihat sebagai dilema sulit untuk para pemilih. Sementara Klaus Schreiner (INFID) mengingatkan, bahwa bukan partai melainkan perorangan yang punya kekuatan uang dan karisma yang akan dipilih, Alex Flor (Watch Indonesia!) di sisi lain sangat menyayangkan daya masyarakat sipil yang melemah dan ketergantungan kelompok reformasi 1998 pada kaum politisi tingkat tinggi yang semakin tinggi bahkan ikut pula terlibat korupsi. Di sisi lain, Stephanus Yuwono yang mewakili KBRI Jerman kembali mengingatkan bahwa 30 tahun rejim diktator Soeharto telah memberatkan negara secara keseluruhan dalam proses kemandirian masyarakat, demokratis dan agamais pluralistis. Maka itu, terlepas dari banyaknya permasalahan dalam kancah politik Indonesia kini, mesti dimengerti jika negara masih memerlukan tambahan waktu dan tenaga. Mempertanyakan tugas gereja Indonesia dan pihak kerjasama dalam situasi politik kini, anggota MPR Albert Hasibuan, berusaha memberikan pandangan kristiani dalam bentuk skenario, dimana gereja bisa meneruskan fungsinya sebagai motor demokrasi dan keadilan sosial. Dalam penjelasannya ia juga mempermasalahkan sikap acuh banyak gereja Indonesia. Dalam plenum akhir pertemuan juga dipikirkan beberapa strategi untuk menanggulangi stagnasi, umpamanya melalui dukungan dari partner di Eropa.

Sumber: http://www.ems-online.org/partner_laender/f_aktuell.html

Dokumentasi lengkap dalam bahasa Jerman: http://www.ems-online.org/publik/infobrief2-2004.pdf
 
 

Simposium internasional proses perdamaian Aceh: Pelajaran dari Sri Lanka dan Irlandia Utara, Bangkok, 16 -18 Agustus 2004

Simposium internasional soal penanggulangan konflik di Aceh merupakan hasil kerjasama lembaga Forum Asia dengan beberapa lembaga pendidikan. Cara pendekatan perbandingan dalam konperensi telah memungkinkan suatu perbandingan antara ketiga kasus (Sri Lanka, Irlandia Utara dan Aceh), karena makalah mengenai latar belakang historis dan politis dari proses perjanjian perdamaian dan fungsi masyarakat sipil dibawakan secara berganti-gantian. Dari Irlandia Utara dan Sri Lanka diundang masing-masing dua pembicara. Makalah mengenai Aceh dibawakan antara lain oleh M.M. Billah (Komnas HAM), Usman Hamid (Kontras), Otto Syamsuddin Ishak (Imparsial), Edward Aspinall (Sydney University) serta mantan ketua Joint Security Councils orang Thailandia mayjen. Tanongsuk Tuvinun. Selain panelis, dari Aceh juga diundang beberapa pihak yang mewakili organisasi-organisasi di Aceh, banyak dari mereka perempuan. Dalam panel tematis, panelis bertukar pengalaman dan saran guna cari solusi terbaik untuk situasi di Aceh.
 

Festival Sastra Internasional Berlin ke-4, Pembacaan karya sastra Ayu Utami, 21 September - 2 Oktober 2004, Berlin

Sastrawati kontemporer Ayu Utami bersama ratusan penyair dan penulis dari seluruh dunia memeriahkan acara festival sastra internasional ke-4 di Berlin. Tanggal 27 September (di depan Berliner Ensemble) Ayu Utami membacakan karya utamanya dalam bahasa Indonesia, ditemani pembacaan karyanya versi Jerman oleh seorang seniman. Ayu Utami yang juga dikenal karena analisanya mengenai praktek korupsi rejim Suharto itu, dalam kesempatan lain juga ikut ambil bagian dalam diskusi mengenai korupsi ("Was ist Korruption?") bersama dengan pendiri organisasi Transparency International Peter Eigen. Dalam kesempatan itu, Eigen menyampaikan pandangannya mengenai permasalahan global praktek korupsi.

Memenuhi undangan KBRI di Berlin, tanggal 29 September Ayu Utami membacakan karya sastra dan memberikan ceramah mengenai batas antara sastra populer dan sastra „tinggi“ di Indonesia di depan masyarakat Indonesia di Berlin. Dalam kesempatan itu ia sangat menyesalkan minat baca di Indonesia yang masih rendah. Pendapatnya mengenai pergantian kekuasaan di Indonesia yang berlangsung secara damai: “Saya bangga jadi orang Indonesia”.
 

Program festival sastra internasional ke-4 di Berlin:
http://www.literaturfestival.com/bios1_1_5_113.html
 
 

Pertemuan jaringan kerja NGO Indonesia dan Timor Timur ke-11, Bad Homburg, 8 - 10 Oktober 2004

Salah satu dampak negatif situasi aktual di Indonesia terlihat pada klima yang ada di dunia politik dan perekonomian. Keduanya tidak tanggung-tanggung eksploitasi sumber daya sampai titik penghabisan, sampai pada akhirnya kehilangan pegangan. Hal ini disampaikan Hok An (IMBAS) dalam makalah "Situasi sosialpolitik di Indonesia – Risiko dan potensi perubahan" yang membuka pertemuan jaringan kerja NGO mengenai Indonesia yang ke-11.

Plenum yang diadakan hari berikutnya dimulai dengan acara peringatan atas meninggalnya pejuang hak asasi manusia Munir. Sebelumnya, Munir telah direncanakan untuk hadir dan menjadi pembicara utama dalam pertemuan.
Pertemuan diteruskan dengan pembacaan makalah mengenai beberapa tema: Suhendra Pasuhuk (Deutsche Welle, Bonn) menganalisa liku-liku pemilu serta permasalahan yang mungkin akan dihadapi presiden baru RI SBY. Menurutnya, pemerintah semestinya mengarahkan perhatiannya pada usaha good governance, restrukturisasi sektor keamanan dan pertumbuhan ekonomi. Agam Faturrochman dari ICW (Indonesia Corruption Watch, Jakarta) yang memaparkan kasus Lippo-Bank berusaha membuktikan eratnya hubungan keterkaitan antara demokrasi dan corporate governance dan bahwa pemerangan korupsi mesti menjadi bagian dari proses demokratisasi. Kasus Lippo-Bank di Indonesia telah menjadi penggerak untuk membentuk koalisi pertama di Indonesia untuk menentang korupsi. Agam juga memperkenalkan laporan mengenai langkah-langkah reformasi yang tengah diterapkan di satu kota di Jawa yang nantinya akan dipakai sebagai panduan untuk pemerangan korupsi oleh SBY. Makalah berikutnya dibawakan oleh Liem Soei Liong (Tapol). Walaupun ia menyesalkan ketidakberadaan gerakan perdamaian di Indonesia, ia optimis adanya proses perdamaian di Aceh di waktu mendatang. Dalam makalahnya mengenai "Peranan organisasi internasional dalam perkembangan demokrasi dan negara hukum di Indonesia", Liem menekankan pentingnya melakukan langkah pertama ke arah dialog yang semestinya dilakukan oleh masyarakat sipil. Usai pembacaan makalah, dibentuklah empat kelompok kerja dengan tema pokok: hak asasi manusia, reformasi, lingkungan hidup dan kampanye pengurangan hutang, dimana para panelis dan peserta mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan aktivitas.
 

Kerja Pers dan Pelobian:

Robin Wood: Mebel kayu asal eksploitasi liar masih di pasaran, 8 September 2004

Sejumlah besar mebel yang dipamerkan di pameran mebel taman internasional SPOGA di Cologne terbuat dari kayu asal hutan tropis. Organisasi peduli lingkungan hidup Robin Wood memperkirakan, pasaran Jerman tahun depan akan dipenuhi mebel taman dari kayu curian. Kekuatiran ini tetap kuat, walaupun beberapa perusahaan besar telah menyetujui politik pembelian kayu yang lebih baik. Setelah toserba Aldi (lihat Layanan Informasi No. 28) kini toserba raksasa Edeka bersedia penuhi seruan kelompok peduli lingkungan hidup. Bulan Juli ini Edeka telah berjanji supaya tidak akan jual barang buatan kayu tropis tanpa label FSC (Forest Stepwardship Council) lagi. Robin Wood terus menerus mengulang seruannya kepada semua pihak, supaya menghentikan pemasaran setiap produk mengandung kayu hutan tropis yang berasal dari pengolahan hutan dengan standar ekologis dan sosial yang tidak layak.

http://www.umwelt.org/robin-wood/german/presse/040708.htm
 

Robin Wood yakini Metro: Konsern Metro tolak kertas olahan kayu hutan tropis, 25 Agustus 2004

Salah satu toserba terbesar di dunia, Metro, menghentikan hubungan dagang dengan perusahaan kertas Indonesia Asia Pulp and Paper (APP). Keputusan ini diambil sebagai reaksi terhadap aksi protes organisasi peduli lingkungan hidup Robin Wood (lihat Layanan Informasi No. 28) yang mengecam APP karena tidak habis-habisnya merusak hutan tropis di Sumatra dan melanggar HAM penduduk daerah setempat. Metro mengakui, APP tidak berhasil membuktikan bahwa bahan baku kayu untuk produksi kertasnya bukan berasal dari hutan lindung. Bertolak dari pengalamannya dengan kasus APP, Metro berniat untuk minta dari semua perusahaan pemasok kertas suatu pernyataan tertulis mengenai asal usul bahan baku produknya. Robin Wood sangat menghargai keputusan Metro, karena bisa menjadi panduan untuk sektor industri dan dagang diseluruh dunia supaya hengkang dari perdagangan produk-produk asal perusakan hutan. Beberapa bulan yang lalu, toserba Karstadt dan Deutsche Post AG juga telah memberikan jawaban positif terhadap protes Robin Wood. Mereka janji untuk tarik keluar semua stock kertas hasil produksi perusahaan yang merusak hutan tropis.

http://www.umwelt.org/robin-wood/german/presse/040825.htm

Informasi latar belakang kampanye Robin Wood: http://www.robinwood.de/urwaldpapier
 

WWF: Sebagian hutan Tesso-Nilo jadi Taman Nasional, 5 Agustus 2004

Status hutan gajah Tesso-Nilo di propinsi Riau direncanakan akan dirubah jadi taman nasional. Untuk itu, pemerintah Indonesia sudah mengamankan lahan seluas 38.000 hektar secara resmi. Menurut WWF, keputusan ini juga merupakan hasil kerja lobi intensif di Indonesia dan Jerman. Hutan Tesso-Nilo termasuk hutan paling kaya flora dan fauna sedunia dan salah satu hutan primer yang masih tersisa di Sumatra. Dengan luasnya mencapai 155.000 hektar, hutan Tesso-Nilo juga merupakan satu-satunya tempat persembunyian harimau dan gajah Sumatra. Sebagian besar wilayah Tesso Nilo yang sudah rusak akibat eksploitasi liar oleh perusahaan kayu dan kertas dan tidak mungkin dikembalikan ke keadaan semula. WWF menyambut dengan baik rencana perubahan status tersebut guna menjaga dan melestarikan kekayaan alam di hutan Tesso-Nilo.

http://www.wwf.de/presse/pressearchiv/artikel/02057/index.html  http://www.wwf.or.id/tessonilo/Default.php?ID=691&wwf_lang=1
 
 

Laporan dan Publikasi:

Laporan FES Jakarta: Calon Presiden saat kampanye tidak ada konsep penanggulangan pengangguran dan pertumbuhan ekonomi, Gerd Botterweck, Jakarta, Juni 2004

Mengingat tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, tidak heran kalau kampanye kedua calon presiden yang hanya mengangkat tema-tema populis agak mengecewakan. Isi rancangan program kerja penanggulangan masalah politik dan ekonomi serta lapangan pekerjaan yang ditawarkan adalah sangat umum. Di dalamnya tidak ditemukan langkah-langkah kerja konkret untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Kedua calon hanya menekankan bahwa pemerintah, perwakilan negara dan lembaga kehakiman tidak terlibat korupsi dan negara sudah punya supremasi hukum.

FES dalam laporan aktual menawarkan analisa padat mengenai kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia dan beberapa saran perbaikan situasi. Penekanan upah riil, peningkatan fleksibitas lapangan pekerjaan serta harapan pada konsumen untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ternyata bukan solusi yang efektif. Berpatokan pada angka pertumbuhan spekulatif guna menyelesaikan masalah lapangan pekerjaan dari 6-8% oleh Botterweck dinilai sebagai cara yang tidak realistis.

http://fesportal.fes.de/pls/portal30/docs/FOLDER/WORLDWIDE/ASIEN/BERICHTE/INDONESIEN06_04ARBEITSMARKT.HTML
 

Norwegian Refugee Council: Profile of Internal Displacement: Indonesia, 9 Juli 2004

Terkecuali Aceh, sebagian besar daerah konflik di Indonesia sudah kembali tenang. Walau demikian, masih ada kurang lebih 500.000 pengungsi domestik yang tinggal di kamp pengungsi dan bukan daerah asal. Selama terjadinya konflik kekerasan di Kalimantan, Maluku, Sulawesi Tengah dan daerah lainnya, mereka terpaksa kabur meninggalkan tempat tinggal asalnya. Mereka yang sudah kembali ke daerah asal dengan susah payah mesti membangun eksistensi baru dan juga membangun hubungan dengan orang yang dulu musuhnya. Oleh karena perang di Aceh sudah berlangsung lama dan tanpa henti, situasi di daerah itu sangat dramatis.
Kumpulan data-data kaya informasi oleh Norwegian Refugee Council telah diperbaharui di bulan Juli. Laporan setebal 271 halaman selain berisi informasi latar belakang mengenai konflik juga ada data statistik mengenai situasi para pengungsi dan aksi bantuan yang ada.

Laporan dalam format PDF atau Word:
http://www.db.idpproject.org/Sites/idpSurvey.nsf/wCountries/Indonesia
 

Human Rights Watch: Perlu Dibantu: TKW korban penganiayaan di Indonesia dan Malaysia, Juli 2004

Organisasi perempuan, HAM dan Serikat Buruh sejak lama mempermasalahkan nasib tenaga kerja Indonesia yang jadi pembantu rumah tangga di negara-negara di Timur Tengah. Bahkan media massa dan pihak politik semakin terdesak untuk ikut memikirkan persoalan ini, setelah diketahui praktek penganiayaan yang sering dialami TKI. Pemberitaan dan penyebar luasan gambar-gambar dari situasi yang dialami TKI Nirmala Bondet yang dianiaya majikannya di Malaysia berbentuk pemukulan, pembakaran dengan seterika, penyiraman air panas sangat memukul perasaan masyarakat luas di Indonesia. Berita skandal selama bulan Mei tersebut telah menggerakkan presiden Megawati menjumpai orang tua Nirmala Bondet. Orang tua Nirmala Bo juga dibiayai penerbangannya ke Kuala Lumpur untuk menjemput anaknya kembali ke Indonesia.

Tahun lalu sekitar 100 pembantu rumah tangga Indonesia mati karena jatuh dari apartemen di Singapura. Kecelakaan di tempat kerja saat menjemur pakaian? Boleh saja diperkirakan bahwa kebanyakan kasus kematian merupakan aksi bunuh diri yang didorong perasaan putus asa. Kejadian lain yang ikut mempengaruhi perhatian masyarakat adalah berita penculikan dua TKI di Irak.

Human Rights Watch (HRW) menjelaskan permasalahan pekerja asing upah rendah dengan mengambil contoh TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia. Dari 240.000 pekerja asing upah rendah yang bekerja di Malaysia, 90% berasal dari Indonesia. Untuk negara Indonesia, TKI Indonesia merupakan sumber pemasukan devisa yang penting nilainya, sementara Malaysia tetap meneruskan ancamannya untuk kirim paksa ratusan ribu pekerja asing illegal kembali ke Indonesia. Dalam laporan setebal 112 halaman, HRW mendokumentasi berbagai bentuk penganiayaan pembantu rumah tangga, menunjuk pada konvensi internasional dan tanggung jawab pemerintah di Kuala Lumpur dan Jakarta. Laporan diakhiri dengan beberapa saran untuk kedua pemerintahan dan aktor internasional.

http://hrw.org/reports/2004/indonesia0704/
 

Justitia et Pax: Agama dan Demokrasi. Pandangan Umat Muslim dan Kristen, Bonn, September 2004

Isi brosur adalah dokumentasi program dialog antar agama Islam-Kristen yang berlangsung antara tamu-tamu dari Indonesia di permulaan tahun ini. Dengan kunjungan tersebut, Justitia et Pax bertujuan menunjukkan betapa pentingnya melakukan dialog antar agama yang lebih intensif guna mencapai perdamaian dan terlindunginya hak asasi manusia. Tamu dari Indonesia yaitu Prof. Azyumardi Azra, Prof. Franz Magnis-Suseno SJ dan Lies Marcoes-Natsir sudah lama mengusahakan penyaluran antara tujuan demokrasi pluralisme, negara hukum sekuler dan hak asasi manusia dengan profil yang asli dari kehidupan beragam sesuai dengan ajaran islam. Dokumentasi mencakup rangkuman pembicaraan yang disusun secara tematis. Yang menjadi tema diskusi adalah sifat hubungan Islam dan Kristen di Indonesia, Islam dan Demokrasi, peranan perempuan, Islam dan HAM dan “Perang melawan Terror". Terlampir dalam brosur adalah makalah para tamu dalam bahasa Inggris. Makalah menunjukkan bahwa Islam Indonesia memberikan jawaban inovativ sehubungan dengan demokrasi, pluralisme masyarakat dan keadilan hak antar laki-laki dan perempuan.

Brosur satuan dapatkan tanpa biaya di Justitia et Pax, Kaiserstraße 161, 53113 Bonn,
Justitia-et-Pax-Deutschland@dbk.de, http://www.justitia-et-pax.de
 

Laporan ICG: Indonesia Backgrounder: Kenapa Salafisme dan Terorisme tidak selalu cocok, Asia Report No. 83, 13 September 2004

Dalam publikasi terbarunya berjudul “Why Salafism and Terrorism Mostly Don't Mix”, International Crisis Group (ICG) menarik kesimpulan bahwa sejumlah besar kelompok Salafi di Indonesia menolak organisasi-organisasi semacan Jemaah Islamiyah (JI). Menurut ICG, Salafisme bahkan justru menyulitkan penyebarluasan aksi-aksi militan jihad. Yang dimaksud dengan Salafisme disini adalah suatu haluan dalam Islam yang anggotanya bertujuan kembali ke ajaran Islam murni – seusai dengan penghayatannya. Studi ICG memberikan informasi latar belakang umum mengenai Salafisme dan gerakan yang ada di Indonesia.
Bahasan pokok lainnya adalah cara penyebaran ajaran, sumber keuangan dan konflik serta batasan antar berbagai kelompok dalam badan haluan itu. Perhatian mendalam diarahkan pada peranan Jafar Umar Thalib, pemimpin Laskar Jihad. Menarik untuk diketahui adalah penemuan bahwa seruan untuk membubarkan Laskar Jihad berasal dari Arab Saudi dan terjadi sebelum aksi pemboman di Bali. Lampiran studi sangat padat informasi, antara lain daftar lembaga-lembaga Salafis dan alamat orang-orang utama dari gerakan murni Salafisme.

http://www.icg.org//library/documents/asia/indonesia/83_indonesia_backgrounder_why_salafism_and_terrorism_don_t_mix_web.pdf

UNDP Timor-Leste: The Community Reconciliation Process of the Commission for Reception, Truth and Reconciliation, Piers Pigou, April 2004

United Nations Development Program (UNDP) mendukung kerja komisi kebenaran Timor Timur (CAVR) tidak hanya secara finansiil, tapi juga dalam isi kerjanya. Piers Pigou mengevaluasi proses rekonsiliasi yang dibimbing komisi kebenaran dengan tujuan, mendukung komisi dalam melakukan analisa hasil kerjanya. Keberhasilan memadukan hukum formal dan tradisionil guna mencapai mekanisme solusi konflik membuat proses rekonsiliasi untuk aksi kejahatan ringan di Timor Timur layak jadi model untuk negara lain. Melalui cara kerja yang terbuka untuk masyarakat umum dan partisipasi tinggi, para pelaku kejahatan dapat menjalankan rekonsiliasi dengan para korban, serta berkesempatan untuk re-integrasi ke kehidupan di desa asalnya. Cara ini diikuti suatu „perjanjian“ yang kemudian diregistrasi di pengadilan. Penduduk desa diberikan informasi mengenai penyebab konflik dan latar belakang kejadian. Walaupun masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, keberhasilan kerja komisi kebenaran ternyata jauh lebih baik dari yang dibayangkan. Saran Pigou, pekerjaan ini mesti diteruskan, walaupun CAVR berhenti bertugas (April 2004). Kritiknya ditujukan pada ketidakadilan yang menyulitkan pekerjaan rekonsiliasi: banyak kasus kejahatan berat tahun 1999 yang tidak diadili, pelanggaran HAM tahun 1974- 1998 selama ini juga tidak disidik oleh kejaksaan.

http://www.jsmp.minihub.org/Reports/otherresources/UNDP_ReportOnCRP%5B1%5D.pdf
 
 

Laporan dan Publikasi tambahan:


Governance and Poverty Reduction: Evidence from Newly Decentralized Indonesia, SMERU Research Institute, 2004; 40 halaman; (GTZ)
http://www.gtzsfdm.or.id/documents/library/on_ind/Gobernance_PovertyReduction_SMERUMarch04.pdf

The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia, 2004; 217 halaman (UNDP; BAPPENAS)
http://www.undp.or.id/pubs/ihdr2004/ihdr2004_full.pdf

Amnesty International: Indonesia: New military operations, old patterns of human rights abuses in Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam, NAD), AI Index: ASA 21/033/2004, 7 October 2004 http://web.amnesty.org/library/index/engasa210332004

Human Rights Watch: Aceh at War: Torture, Ill-Treatment, and Unfair Trials, Vol. 16, No. 11(C), September 2004 http://hrw.org/reports/2004/indonesia0904/  Progress report of the Secretary-General on the United Nations Mission of Support in East Timor (for the period from 29 Apr to 13 Aug 2004); August 2004; 14 halaman (Reliefweb)
http://www.reliefweb.int/library/documents/2004/unsc-tls-13aug.pdf
 

Buku- buku baru di Watch Indonesia!

Pipit R. Kartawidjaja: Catatan Atas Pemilu Legislatif 2004; Inside, Strategic Studies 777, Watch Indonesia!, o.O., September 2004 , 112 halaman. Pemilu di Indonesia sudah berlalu. Ketidakpuasan terhadap sistem baru, pembagian kursi, registrasi para calon mengangkat keiinginan untuk merubah kembali sistem Pemilu. Dalam buku terbarunya Pipit Kartawidjaja (alias Pipit We Kusumah) membuktikan kelemahan teknis setiap sistem Pemilu, serta memberikan saran dan cara-cara perbaikan di lapangan.10 Euro.

Abdullah Saleh (ed.) et al.: Usaha untuk Tetap Mengenang. Kisah-kisah Anak-anak Korban Peristiwa 65, Pengantar: M.M. Billah, Jakarta und Yogyakarta: Yappika, Jendela Budaya, Hidup Baru, Nopember 2003, 182 halaman. Peristiwa mencekam 1965 menghantui orang Indonesia secara keseluruhan dan keluarga generasi ke-2 dan ke-3 dari korban peristiwa 1965 secara khusus. Publikasi ini merupakan karya pertama yang mengangkat cerita anggota keluarga para korban orang komunis yang menderita akibat diskriminasi dan stigma komunis. Kesaksian mereka menunjukkan, peristiwa 1965 sampai saat ini masih membebani pikiran dan perasaan masyarakat Indonesia. Kata pengantar (45 halaman) mengenai dampak situasi dan psikologis dibawakan oleh M.M. Billah, Anggota Komnas HAM. 5 Euro.

Eye on Aceh: We are the Victims and the Witnesses: Women of Aceh / Korban dan Kesaksian: Perempuan Aceh, Eye on Aceh, Sydney, Australia, April 2004, 38 halaman, Inggris/ Indonesia. Kekerasan terhadap perempuan yang oleh militer dijadikan alat intimidasi, di tahun 2003/2004 terlihat meningkat, walaupun janji pemerintah Indonesia saat menerapkan UU darurat perang Mei 2003 adalah merebut hati dan pikiran orang Aceh. 1,5 Euro.

Eye on Aceh: Fear in the Shadows: Militia in Aceh / Ketakutan dalam Bayangan: Milisi di Aceh, Eye on Aceh, Juli 2004, 62 halaman, Inggris/ Indonesia. Publikasi berisi latar belakang dan mekanisme merekrut anggota milisi. 2 Euro.

Pramoedya Ananta Toer: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Seri Catatan Pulau Buru, Jakarta: Kepustakaan Gramedia Populer, edisi ke-3 2003 (edisi pertama 2001),  € 5,00 Tahanan politik di pulau Buru sering mengetahui keberadaan beberapa perempuan Jawa di pulau itu, yang hidup dalam kondisi mengenaskan. Pramoedya menelusuri nasib perempuan- perempuan, yang semasa muda dibawa tentara Jepang ke pulau itu dan dipaksa jadi wanita penghibur. Naskah tulisan yang ditulis Pramoedya selama berada di pulau Buru itu sempat hilang 20 tahun dan baru ditemukan kembali tahun 2000. 5 Euro.

Forum Sosial Jakarta: Sepuluh Agenda Rakyat untuk Meraih Keadilan, Jakarta 2004. Mengajak Rakyat (atau masyarakat sipil) memerangi sendiri akar permasalahan krisis di Indonesia sebagai reaksi atas ketidakmampuan pemimpin politik. Tulisan didukung organisasi dan pribadi terkemuka dari tengah-tengah masyarakat luas. Jaminan: 1 Euro.

Pipit R. Kartawidjaja: Matematika Pemilu, Jakarta: Inside, Januari 2004, 55 halaman. Memahami penghitungan suara pemilu dengan metodika matematik – buku panduan untuk mereka yang ingin mengenali kekhasan Pemilu Indonesia. 4 Euro.

Pipit Rochijat Kartawidjaja: Alokasi Kursi. Kadar Keterwakilan Penduduk dan Pemilih, Jakarta: Elsam 2003, 232 halaman. Tanya jawab mengenai sistem Pemilu baru. 6 Euro.

Pipit R. Kartawidjaja dan Mulyana W. Kusumah: Kisah Mini Sistem Kepartaian, Jakarta: Closs 2003, 311 halaman. Studi perbandingan mengenai sistem kepartaian dan pembentukan partai. 6 Euro.
 

Buku lainnya: http://www.watchindonesia.org/books.htm

Acara-acara aktual:

Acara-acara aktual mengenai Indonesia dan Timor Timur dapat dibaca di homepage:
http://www.watchindonesia.org/Kalender.htm


Penerbit: Watch Indonesia! e.V. Bekerjasama dengan Umverteilen! Yayasan untuk Dunia Solidaritas
Redaksi: Alex Flor, Marianne Klute, Monika Schlicher, Oliver Venz, Petra Stockmann, Tia Mboeik
Layanan Informasi ini mendapat dukungan sarana Evangelischer Entwicklungsdienst (EED)
 

Zurück zur Hauptseite Watch Indonesia! e.V. Back to Mainpage