Layanan Informasi Indonesia dan Timor Timur
No. 24, Oktober – Nopember 2003
Daftar isi
Dari Kerja Ornop:
Acara dan Pertemuan:
Kerja Pers dan Pelobian:
Indonesia / Timor Timur dalam politik
Jerman dan Uni Eropa:
Publikasi dan Laporan:
Dari Kerja Ornop:
Acara dan Pertemuan:
Temu
Eropa II: Temu NGO se-Eropa kedua, Asienhaus Essen, 31 Oktober– 2 Nopember
2003
Perihal keadilan bagi korban
pelanggaran HAM berat khususnya di masa Orde baru, evaluasi masa transisi
militarisme ke demokrasi, penguatan gerakan demokrasi dan dampak krisis
ekonomi merupakan tema-tema pokok dalam pertemuan kedua NGO Indonesia se-Eropa
(Temu Eropa II) di Essen, Jerman.
Pembicaraan terbuka yang
membahas masalah „1965“ merupakan hal baru bagi para emigran politis orang
Indonesia. Karena hak warganya yang sangat dibatasi, para korban 1965 pada
umumnya sering menemui kesulitan. Acara tatap muka yang juga dihadiri beberapa
korban ‘65 itu berkesimpulan bahwa pelanggaran HAM 1965 hanyalah mengawali
masa Orde Baru. Setelah itu masih banyak korban yang jatuh selama masa
Orde Baru berlangsung. Setelah hampir 40 tahun lamanya menunggu, kini angkatan
`65 beranjak menuntut keadilan. Temu Eropa II mengasilkan satu program
kerja yang bertujuan mendokumentasi semua pelanggaran HAM yang dialami
korban ’65 serta mengumpulkan informasi mengenai usaha-usaha rehabilitasi
para korban.
Praktek Korupsi, tingginya
hutang negara dan kurangnya reformasi di sektor pertanian menjadi kendala
terbesar yang dihadapi ekonomi kemasyarakatan demokratis, demikian pandangan
Hilmar Farid. Berangkat dari pandangan tersebut, peserta Temu Eropa II
menekankan pentingnya memperkuat koordinasi kerja antara kelompok-kelompok
pemerhati masalah ekonomi dan demokrasi yang memungkinkan suatu pandangan
yang menyeluruh mengenai upaya-upaya memajukan proses demokratisasi di
Indonesia yang telah ada. Selain itu, juga diingatkan, bahwa masih ada
perusahaan asing Eropa yang terlibat dalam praktek pelanggaran HAM dan
perusakan lingkungan hidup di Indonesia, yang mesti diminta untuk bertanggung
jawab.
Keterangan
Pers HDC: Mengecam vonis atas peserta tim perundingan di Aceh, 21 Oktober
2003
The Centre for Humanitarian
Dialogue (HDC) di Jenewa – dulu Henri Dunant Centre – bertahun-tahun lamanya
berperan sebagai mediator antara pemerintah RI dan pihak GAM. Dua kesepakatan
yang telah diperjuangkan dengan susah payah, yaitu „jeda kemanusiaan“ (tahun
2000) dan „penghentian permusuhan“ atau Cessation of Hostilities Agreement
(COHA) yang disepakati 9 Desember 2001 dianggap gagal, semenjak Indonesia
di Aceh mulai 19 Mei 2003 memberlakukan darurat militer dan meneruskan
operasi militer pengadangan. HDC terpaksa menarik stafnya keluar dari Aceh.
Peranan HDC dalam proses perundingan yang selanjutnya untuk sementara tidak
mungkin.
Dalam keterangan pers, HDC
menyatakan kekuatirannya mengenai putusan pengadilan atas tiga mantan peserta
tim perundingan GAM, yaitu hukuman tahanan 11 sampai 15 tahun dengan tuduhan
makar dan terorisme.
HDC berharap, putusan pengadilan
itu bukan dilatarbelakangi oleh keiikutsertaan ketiga orang itu dalam proses
perundingan RI-GAM yang menghasilkan perjanjian 9 Desember 2002. Kedua
pihak berkonflik telah menyepakati melakukan perundingan atas dasar saling
percaya bahwa keikutsertaan wakilnya tidak membawa konsekuensi juridis
untuk pihak perorangan. Selain memperhatikan nasib ketiga orang itu, HDC
juga mengingatkan, bahwa vonis pengadilan juga dapat dimengerti sebagai
salah satu cara untuk melemahkan partisipasi dan niat setiap pihak dalam
upaya mencari solusi damai konflik melalui cara dialog. HDC menyerukan
kedua pihak berkonflik untuk kembali ke meja perundingan dan tidak berhenti
mencari cara solusi damai.
Informasi selebihnya:
Andy Andrea
Centre for Humanitarian
Dialogue
Tel. +41 22 908 1130, +41
79 257 9974
e-mail: info@hdcentre.org
http://www.hdcentre.org/Programmes/aceh/Documents/Press%20Statement%20211003.pdf
Hentikan
asuransi kredit Hermes yang merusak hutan tropis! Aksi protes depan Kementerian
Perekonomian Jerman, Keterangan Pers bersama Robin Wood, urgewald dan Watch
Indonesia!, 11 Nopember 2003
Organisasi Watch Indonesia!,
Robin Wood dan urgewald di depan gedung Kementerian Perekonomian Jerman
di Berlin memprotes rencana Jerman untuk menjamin pengiriman mesin untuk
pabrik kertas ke Cina dengan asuransi kredit ekspor Hermes. Pabrik kertas
itu direncanakan akan mengolah bahan selulosa asal Indonesia. Para aktivis
pemerhati lingkungan hidup menggelar pamflet bertuliskan: „Perusak hutan
tropis Clement [Menteri Ekonomi] –Bayar bencana pakai uang pajak“.
Dalam bentuk tertulis, ketiga
organisasi menyerukan pemerintah Jerman untuk menghentikan dengan segera
praktek jaminan asuransi kredit ekspor Hermes untuk pabrik kertas, setelah
diketahui, bahwa perusahaan APRIL telah dijanjikan untuk menjadi pemasok
bahan selulosa untuk pabrik kertas di Cina. Pihak APRIL sendirinya tidak
sanggup memastikan bahwa perusahannya tidak terlibat dalam usaha kayu ilegal.
„APRIL di masa lalu telah merusak sejumlah besar areal hutan tropis dan
akan melanjutkan hal tersebut di masa depan“, ujar Marianne Klute dari
Watch Indonesia!. „Sudah saatnya, pemerintah Jerman menghentikan setiap
bentuk dukungan praktek curi kayu di hutan tropis, supaya bencana alam
seperti yang baru terjadi di Sumatra tidak terulang lagi“, kata Peter Gerhardt
dari Robin Wood.
Banjir di Bukit Lawang, 1
Nopember lalu, yang merenggut sekitar 200 nyawa terjadi akibat pemotongan
hutan tanpa batas dan ini membuktikan bahwa eksistensi manusia dan dasar-dasar
kehidupan alamnya di Indonesia sudah sangat terancam. Organisasi lingkungan
hidup Indonesia menyerukan untuk mengadakan suatu moratorium pemotongan
kayu untuk pemasok bahan baku industri.
http://www.watchindonesia.org/Hermes_Appell.htm
WWF
Jerman: Menilai tingkat kepedulian lingkungan hidup bank-bank internasional,
20 Nopember 2003
Atas nama WWF (Worldwide Fund
for Nature) agensi Munich oekom research AG mengadakan studi yang isinya
mempertanyakan sejauh apa bank-bank ikut memperhatikan kriteria lingkungan
hidup dan sosial pada saat menyetujui pemberian kredit untuk membiayai
proyek-proyek ekonomis perhutanan atau pihak yang bermaksud merubah fungsi
hutan, umpamanya menjadi HTI (hutan tanam industri). Studi oekom menunjukkan,
bahwa hanya sejumlah kecil bank yang dalam pemberian kreditnya memperhatikan
standar-standar lingkungan hidup dan sosial. Hal inipun jika diterapkan
pada beberapa industri besar terlihat masih berada dalam taraf sangat rendah.
Dalam keterangan persnya, WWF mengemukakan, bahwa bank asing secara tidak
langsung telah terlibat dalam perusakan hutan karena memberikan kredit
pada perusahaan kertas dan kelapa sawit. Setiap tahun ratusan ribu hektar
hutan tropis di Indonesia mengalami perusakan akibat usaha proyek-proyek
yang tidak mempedulikan soal lingkungan hidup dan situasi sosial. Dari
sebelas bank yang telah diperiksa menurut konsep kerja rating (penilaian),
telah terbukti, bahwa bank peraih nilai terbaik A adalah Bank ABN AMRO.
Sedangkan, Deutsche Bank, Norddeutsche Landesbank dan Industriekreditbank
tidak bersedia diikutsertakan dalam pemeriksaan rating dan menolak untuk
memberikan informasi.
http://www.wwf.de/presse/pressearchiv/artikel/01524/index.html
EMS:
Panggilan darurat dari Indonesia – aksi kekerasan di Mamasa, Keterangan
Pers 5 Nopember 2003
Aksi kekerasan yang digerakkan
kepentingan politis, sehubungan dengan rencana pemekaran daerah di
Mamasa, Sulawesi Selatan, menyebabkan sejumlah besar penduduk kabur menyelamatkan
diri. David Tulaar, penasihat EMS (Lembaga Misionaris Jerman bagian Barat
Daya) untuk Indonesia melaporkan, „pihak Gereja memberikan perlindungan
pada pengungsi di gedung-gedung gereja, rumah dinas dan pribadi“. Mitra
EMS di Sulawesi, yaitu Gereja Toraja-Mamasa (GTM), sangat mengharapkan
bantuan dana untuk membantu nasib para pengungsi. Sementara ini, pihak
gereja juga mencari kemungkinan untuk menggerakan pemerintah supaya menangani
konflik yang ada. Gereja Toraja-Mamasa yang beranggotakan 100.000 jemaat
berada di kaki bukit Mamasa dan hanya dapat dicapai dengan cara jalan kaki
atau naik kuda. Sekitar 80 persen penduduk Mamasa beragama kristen, sedangkan
pendatang yang beragama islam semakin bertambah jumlahnya. Kerja GTM secara
khusus bertujuan untuk memperbaiki infra struktur. Semenjak terjadinya
bencana banjir tahun 1998, GTM juga semakin intensif memberikan pelayanan
sosial. Akibat krisis moneter, banyak anggota jemaat GTM yang jatuh miskin
dan kini bergantung pada bantuan internasional.
EMS sangat mengharapkan bantuan
dana Anda untuk membantu pengungsi di Mamasa: Evangelische Kreditgenossenschaft
eG, Stuttgart, BLZ 600 606 06, nomor rekening 124, kata kunci „Flüchtlinge
in Mamasa“.
http://www.ems-online.org/_texte/aktuell/AktPMNotrufIndonesien11-03.htm
Laporan dengan informasi
latar belakang kerusuhan politik dan eskalasi kekerasan, liputan koran
Kompas dan laporan ringkas GTM:
http://www.ems-online.org/_texte/aktuell/AktAsIndonesienInfos11-03.htm
Indonesia/Timor Timur dalam
politik Jerman dan UE:
Keterangan
Pers Kedutaan Besar Jerman di Jakarta: Jerman dan Indonesia intensifikasi
hubungan kerjasama badan kepolisian, 28 Oktober 2003
Kedutaan Besar Jerman
untuk Indonesia tanggal 28 Oktober membuka kantor hubungan lembaga reserse
polisi Jerman (BKA) di Jakarta. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan intensitas
kerjasama antara badan kepolisian kedua negara khususnya dalam memerangi
terorisme internasional dan kriminalitas transnasional. Kantor tersebut
juga menawarkan bantuan teknis dan pelatihan kepada polisi Indonesia. Lima
polisi Indonesia telah diundang ke Jerman untuk mengikuti program pelatihan
di bulan Januari 2004. Delegasi tinggi BKA secara khusus telah datang ke
Jakarta menghadiri acara peresmian kantor BKA. Dalam program kerjanya,
telah ada rencana untuk mengadakan suatu pembicaraan pakar mengenai terorisme
internasional, serta mencari kemungkinan kerjasama kedua negara di sektor
lain dan memberikan dukungan pada polisi Indonesia dalam kerjanya. BKA
saat ini membiayai 48 kantor perhubungan di 45 negara.
http://www.deutschebotschaft-jakarta.or.id/de/kultur/press_release/28102003.html
Pernyataan
sikap bersama Uni Eropa, Jepang dan AS soal Aceh, 6 Nopember 2003
Dalam pernyataan bersama, Uni
Eropa, Jepang dan AS menyatakan rasa kuatir mengenai perpanjangan pemberlakuan
darurat militer di Aceh. Sebelum itu, AS telah mempersiapkan konperensi
perdamaian dan pembangunan kembali Aceh di Tokio. Penduduk Aceh diperhatikan
keinginannya untuk hidup dalam suasana damai dan aman. Dalam pernyataan
bersama tersebut, ketiga pihak minta supaya masa berlaku darurat militer
dihentikan dengan segera. Pernyataan ini pun sesuai dengan pernyataan terbuka
Presiden Megawati tanggal 1 Agustus. Uni Eropa, Jepang dan AS sangat mengharapkan
supaya penderitaan di Aceh dibatasi seminimal mungkin, situasi dibuat transparan
serta wakil-wakil lembaga internasional maupun NGO bantuan kemanusiaan
diberikan akses untuk memberikan bantuan.
Dalam pernyataannya itu,
ketiga pihak menegaskan pengakuannya atas keutuhan teritorial Indonesia
dan menolak dengan tegas setiap usaha mempertanyakan batas wilayah Indonesia.
Konflik di Aceh dinyatakan hanya bisa diselesaikan melalui jalur politik.
Good Governance, rencana otonomi dan proyek-proyek pembangunan sangat menentukan
penyelesaian konflik. Negara-negara tersebut sekali lagi menekankan kesediaannya
untuk mendukung dan membantu pembangunan dan pengembangan struktur kelembagaan
Aceh di masa depan.
http://www.usembassyjakarta.org/press_rel/aceh_jsc.html
Kesepakatan
Parlamen Eropa soal Aceh, 20 Nopember 2003
Dengan penuh rasa kuatir, Parlamen
Europa memperhatikan perkembangan di Aceh setelah darurat militer dan operasi
militer diberlakukan. Dalam kesepakatannya mengenai Aceh, pemerintah RI
diserukan untuk menghentikan sifat ofensif serta membuka kembali jalur
dialog dengan GAM. Masyarakat sipil – khususnya perempuan dari Aceh – diharapkan
dengan sangat keterlibatannya yang aktif dalam dialog dan dalam setiap
upaya demi tercapainya perdamaian. Parlamen Eropa menyerukan pemerintah
Indonesia „untuk mengadili setiap pelaku pelanggaran HAM di Aceh dan di
daerah Indonesia lainnya, tanpa membedakan apakah itu dilakukan oleh warga
sipil, anggota kelompok separatis, milisi, kelompok paramiliter ataupun
anggota militer“. GAM diserukan untuk mengikuti cara-cara demokratis dan
menyerahkan senjatanya.
Rasa prihatin juga ditujukan
terhadap serangan militer dan polisi, tanggal 19 Oktober 2003, ke arah
tempat pelatihan pemantau HAM untuk Aceh. Pelatihan pemantau HAM tersebut
dibentuk oleh Komnas HAM bekerjasama dengan sebuah lembaga pemerintahan.
Pemerintah Indonesia diminta dengan sangat, supaya semua organisasi kemanusiaan,
pengamat HAM independen, wakil diplomatis (juga dari Tokyo-group) dan jurnalis
diberikan akses bebas di seluruh Aceh. Selain itu, pemerintah Indonesia
juga diserukan untuk membiarkan pengamat PBB mengunjungi propinsi Aceh,
seperti penasihat khusus sekjen PBB untuk HAM dan para pelapor khusus PBB
yang mengusut hal pembunuhan ekstralegal, penyiksaan dan hal kondisi pengungsi.
Dalam bahasa Inggris:
http://www3.europarl.eu.int/omk/omnsapir.so/pv2?PRG=CALDOC&FILE=20031120&LANGUE=EN&TPV=PROV&LASTCHAP=18&SDOCTA=17&TXTLST=1&Type_Doc=FIRST&POS=1
BMZ: Jerman
bantu perbaiki sarana medis dan pendidikan di Indonesia Timur, Keterangan
Pers, 7 Nopember 2003
„Atas inisitatif Kementerian
Jerman untuk Pembangunan Ekonomi (BMZ) telah dikembangkan bahan-bahan ajar
untuk ilmu pengetahuan alam untuk empat juta murid di 33.000 Sekolah Dasar
serta didirikan 510 pusat pendidikan lanjutan untuk guru IPA dengan bantuan
modus pendanaan gaya baru. Karena Indonesia telah membiayai proyek itu
dengan anggaran sendiri, hutang luar negerinya dikurangi setinggi dua kali
jumlah anggaran proyek (senilai 25 juta Euro).
Perundingan antar negara
yang berakhir permulaan Nopember menghasilkan dana pembangunan senilai
65,6 juta Euro. Dengan menekankan reformasi ekonomi, pelayanan kesehatan,
transportasi dan desentralisasi, pemerintah Jerman secara aktif telah mendukung
penguatan sektor ekonomi dan haluan politik baru Indonesia. Pusat perhatian
tahun ini diarahkan pada sektor kesehatan. Mengikuti saran pakar Jerman,
Indonesia untuk pertama kalinya membentuk fond kesehatan yang secara khusus
hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada orang-orang termiskin di Indonesia
Timur yang merupakan wilayah operasi utama kerjasama pembangunan Jerman.
Proyek terbesar tahun 2003
adalah pembiayaan sebuah kapal pengangkat penumpang dan barang untuk wilayah
nusantara.
http://www.bmz.de/presse/pressemitteilungen/103_2003.html
BMZ:
Jerman membantu sistem transportasi Timor Leste, 2 Desember 2003
Dengan tujuan memperkuat kemerdekaan
politis Timor Leste, Kerjasama Jerman untuk Pembangunan Ekonomi mendukung
penguatan basis ekonomi. Dalam perundingan yang baru belum lama berselang
Jerman setuju untuk membangun sistem transportasi laut yang sekalian menjadi
model dukungan bagi usaha kecil dan menengah. Karena letak negaranya yang
diujung kepulauan Indonesia, sektor perhubungan laut sangat penting artinya
untuk pertahanan keamanan Timor Leste yang merupakan jalur perhubungan
yang paling aman. Dana setinggi 6 juta Euro akan dipergunakan bagi pembentukan
sebuah perusahaan pelayaran yang membiayai pembelian kapal feri kecil dan
dan memantau kualitas pengelola dan awak kapal.
http://www.bmz.de/presse/pressemitteilungen/117_2003.html
Publikasi dan Laporan :
Laporan
ICG: The Perils of Private Security in Indonesia: Guards and Militias on
Bali and Lombok, ICG Asia Report Nr. 67, Jakarta/Brussel, 7 Nopember 2003
Dalam laporannya yang terakhir,
International Crisis Group (ICG) menjelaskan peranan tenaga sipil di sektor
keamanan dengan mengambil contoh pada dua daerah, yaitu Bali und Lombok.
Peralihan fungsi polisi ke tangan organisasi keamanan lokal dan milisi
bukanlah fenomena baru di Indonesia. Alhasil, praktek demikian malah memperluas
masalah dan tidak membuat situasi lebih aman. Apalagi, jika mereka dijadikan
alat untuk meraih kekuasaan atau menjelma jadi kelompok tukang pukul. Pada
dasarnya mereka tidak memiliki keahlian yang cukup untuk pekerjaannya,
seringkali direkrut atas unsur kesukuan dan agama, tidak terkontrol oleh
hukum, dan terlalu mudah bertindak semena-mena.
Di Bali, organisasi keamanan
tradisionil pecalang dijadikan mitra polisi. Bersamaan dengan itu, organisasi
ini juga adalah penjaga keamanan partai PDI-P di bawah pimpinan Presiden
Megawati, sehingga dengan sendirinya ikut memegang peranan politis.
Di Lombok, krisis moneter
1997-1999 telah berdampak pada naiknya tingkat kriminalitas secara drastis.
Oleh karena persiapan polisi yang masih kurang, maka pemimpin-pemimpin
agama membentuk pam swakarsa yang kini telah beralih fungsi lebih sebagai
pemberi perlindungan pada wakil politik.
Menjelang Pemilu dan bertambahnya
ketegangan politis, ICG percaya, bahwa bantuan yang diberikan kelompok
seperti pam swakarsa untuk menjaga keamanan di daerah semakin dilupakan
oleh karena ditakutkan bahwa mereka menjadi pemicu konflik. Hal demikian
merugikan proses reformasi politis dan hukum. Seperti biasa, kali inipun
ICG memberikan beberapa saran untuk pemerintah Indonesia, pemprov di Bali
dan Lombok serta pemberi dana.
http://www.crisisweb.org/home/index.cfm?id=2353&l=1
FES
Jakarta : Laporan mengenai situasi di Indonesia, Dr. Hans J. Esderts, 5
Nopember 2003
Laporan yang dikeluarkan Friedrich-Ebert-Stiftung
(FES) Jakarta memuat beberapa kemungkinan penjelasan mengenai penyebab
terjadinya bencana banjir di Bukit Lawang/Sumatra Utara tanggal 1 Nopember
lalu. Daerah wisata dekat stasiun rehabilitasi orang utan itu mengalami
kerusakan hebat akibat serangan ombak air setinggi 6 meter dan hanyutan
batu, lumpur dan pohon-pohon. Korban yang jatuh diperkirakan mencapai 200
jiwa. Laporan menuduh pemotongan hutan primer tanpa batas di Taman Nasional
Leuser sebagai penyebab bencana. Kini, Taman Nasional Leusser kehilangan
fungsinya meregulasi ekosistem di kawasan tersebut. Kerusakan hutan Indonesia
tercatat berlangsung sangat cepat, setiap detiknya mencapai lahan seluas
lapangan bola. Bank Dunia telah meramalkan, bahwa di tahun 2005 sisa hutan
di Sumatra akan punah sama sekali, jika praktek penebangan hutan tetap
dilakukan seperti sekarang. Selain itu, Kalimantan diramalkan nasib yang
sama untuk kurun waktu 5 tahun mendatang. Kelompok mafia baik itu secara
terus terang maupun diam-diam telah berkomplot dengan pihak militer, badan
pemerintahan, pegawai negeri lokal dan kaum politisi dengan tujuan mengeruk
keuntungan sebesar-besarnya. Ditangan merekalah, kebijakan pengelolaan
hutan selama ini berada. Dari beberapa hasi studi yang dilakukan FES telah
terungkap, bahwa tingkat keinginan politis kalangan nasional maupun lokal
untuk menentang pemotongan hutan ilegal masih tergolong rendah bahkan tidak
ada. 70-75% anggaran pemasukan militer merupakan hasil bisnis pribadi pihak
militer. Setiap pembatasan usaha anggota TNI untuk ikut andil dalam sektor
ekonomi dan politik dapatlah menjadi langkah pertama untuk melemahkan usaha-usaha
ilegal. Tetapi langkah ini tidak mungkin diambil di masa krisis ekonomi
berpanjangan seperti sekarang ini, apalagi Presiden Megawati sampai saat
ini belum memberikan tanda-tanda konkret yang mendukung langkah tersebut.
Penebangan hutan dengan demikian akan terus berlangsung.
http://fesportal.fes.de/pls/portal30/docs/FOLDER/WORLDWIDE/ASIEN/BERICHTE/INDONESIEN1103LEUSER.HTML
Lembaga
Persahabatan Jerman - Timor Leste (DOTG): Newsletter No. 1/03, 1 Nopember
2003
Lembaga Persahabatan Jerman
- Timor Leste (Deutsche Osttimor Gesellschaft, DOTG) yang didirikan di
Cologne bulan Maret 2003 bertujuan mempererat hubungan persahabatan antara
kedua negara dan masyarakatnya. Untuk meningkatkan pertukaran informasi,
DOTG sekali dalam tiga bulan akan mengeluarkan buletin. Buletin pertama,
yang baru-baru ini terbit, berisi tulisan mengenai perkembangan-perkembangan
aktual penting di Timor Leste. Bultin antara lain memuat hasil wawancara
dengan Ligia de Jesus, yang adalah assessor menlu Timor Leste José
Ramos-Horta di Lissabon, dimana ia menjelaskan kesulitan-kesulitan dasar
yang dihadapi negara muda itu. Beberapa kesulitan yang ia lihat adalah,
bahwa tidak adanya buku penuntun untuk membangun negara. Padahal, demi
menjaga perdamaian dan stabilitas sangatlah dibutuhkan upaya membangun
dialog dan rekonsiliasi. Dan dalam hal ini ia melihat peran komisi kebenaran
Timor Leste sangat penting artinya. Ligia de Jesus tidak percaya, bahwa
pihak yang sesungguhnya bertanggung jawab atas kejahatan dan perusakan
tahun 1999 akan pernah diadili. Pengadilan HAM di Jakarta menunjukkan,
bahwa pejabat-pejabat tinggi militer sampai sekarang di depan hukum masih
menikmati imunitas. Dari tempat bertugasnya di Lissabon, Ligia de Jesus
mengkoordinasi program beasiswa sekolah dan perguruan tinggi. DOTG mendukung
proyek ini dan menghimbau dukungan dari pemberi dana. Informasi dan acara-acara
DOTG dan informasi mengenai Timor Leste serta daftar pustaka di internet
melengkapi buletin tersebut.
Kontak: Andrea Fleschenberg
(Ketua DOTG)
e-mail: anafleschenberg@yahoo.com
donor account: GLS Gemeinschaftsbank;
BLZ: 430 609 67, Konto: 34154200
http://www.osttimor.de
EMS:
Indonesia – Kemana bajonet terarah? – Militer Indonesia kembali menguat,
Newsletter No. 6/2003, Nopember
“Apakah Indonesia mampu meneruskan
perjalanannya menuju demokrasi dan masyarakat bebas atau akan kembali ke
aturan otoriter?”, demikian pertanyaan utama yang dibahas dalam pertemuan
tahunannya mengenai Indonesia Lembaga Misionaris Jerman bagian Barat Daya
(EMS), yang berlangsung 18 - 19 Oktober 2003 di Stuttgart. Pandangan lain
yang cukup dominan adalah keraguan terhadap pemerintahan Megawati yang
semakin besar, terhentinya proses reformasi dan pengaruh militer kembali
kuat.
Newsletter yang dikeluarkan
EMS memuat makalah-makalah pertemuan serta tulisan lainnya yang isinya
membahas tema-tema khusus (Papua, Aceh, pencalonan Jenderal Wiranto sebagai
capres dan UU Anti-Teror). Tulisannya Klaus Schreiner, ketua INFID Liaison
Office di Brussels, umpamanya, berisikan gambaran menyeluruh mengenai perubahan-perubahan
dalam badan TNI setelah era reformasi dimualai serta peran khusus TNI di
sektor politik dan ekonomi. Menurut pengamatannya, pemerintahan Megawati
mempererat hubungannya dengan para Jenderal TNI atas dasar pemikiran saling
menguntungkan. Tidak ada tersirat niat mereka untuk „mensipilkan“ TNI.
Pemerintah, parlamen dan TNI membentuk lingkungan tertutup, di mana mereka
saling menguntungkan dan memberi proteksi. Schreiner mengingatkan, supaya
bantuan internasional jangan disalurkan pada kerjasama militer; namun sebaiknya
disalurkan pada upaya mendukung politisi sipil dan anggota parlamen dalam
mengembangkan dan mengundangkan suatu konsep TNI yang lebih demokratis.
Konflik berkepanjangan di
Aceh, khususnya operasi militer yang berdampak pada penderitaan rakyat
Aceh merupakan pokok perhatian Teuku Samsul Bahri, koordinator bagian kampanye
Kontras Aceh. Menurut pengamatannya, operasi 100 hari TNI di Aceh sampai
sekarang belumlah membuahkan hasil yang berarti, malah yang terlihat adalah
situasi kemanusiaan yang menyedihkan dimana-mana. Aksi kekerasan terhadap
pembela HAM bertambah secara drastis. NGO tidak sanggup lagi melakukan
monitoring; penduduk desa takut memberi laporan mengenai aksi kekerasan
karena tidak ada jaminan keamanan. Jumlah korban sipil diperkirakan adalah
jauh diatas angka resmi.
Tema perang melawan terorisme
dibahas oleh pakar militer Ingo Wandelt. Wandelt dalam makalahnya menggambarkan
reaksi TNI, polisi dan politik – dari mulainya pembentukan satuan anti
teror sampai saat UU baru disahkan yang dilatar belakangi pertikaian internal
aparat keamanan. Selain perang melawan terorisme, pengawasan dinas-dinas
rahasia dan militer terhadap anggota masyarakat yang semakin ketat juga
merugikan perkembangan demokratis masyarakat bersangkutan.
http://www.ems-online.org/partner_laender/index.html
Printout seharga 1,50 €
dapat dipesan di: http://www.ems-online.org
Heike
Gaessler: „Indonesia di Berlin“ dalam seri publikasi penasihat senat untuk
integrasi dan migrasi „Hidup Bersama di Berlin“, Oktober 2003
Di Berlin, komunitas orang Indonesia
sejumlah 1.500 orang tergolong kelompok minoritas. Hubungan antara Berlin
dan orang Indonesia dikenal sudah berlangsung cukup lama. Dalam penelitiannya,
Heike Gaessler menemukan banyak aktivitas mengenai Indonesia di Berlin.
Hasilnya dapat dibaca dalam buku “Indonesia di Berlin” setebal 96 halaman.
Buku tersebut memberikan latar belakang singkat mengenai sejarah, politik
dan budaya Indonesia, memuat wawancara serta memperkenalkan beberapa orang
yang mewakili komunitas Indonesia di Berlin.
„Indonesien in Berlin“ dapat
didapatkan dengan uang jaminan 2,00 Euro di:
Beauftragter des Senats für
Integration und Migration
Potsdamer Straße 65
10785 Berlin
Tel.: (030) 9017 - 2357
oder 9017 – 2322
Fax: (030) 262 54 07
e-mail: integrationsbeauftragter@auslb.verwalt-berlin.de
Acara-acara aktual:
Acara aktual mengenai Indonesia
dan Timor Timur dapat dibaca di:
http://www.watchindonesia.org/Kalender.htm
Penerbit: Watch Indonesia!
e.V. Bekerjasama dengan Umverteilen! Yayasan untuk Dunia Solidaritas
Redaksi: Alex Flor, Marianne
Klute, Monika Schlicher, Oliver Venz, Petra Stockmann, Tia Mboeik.
Layanan Informasi ini
didukung dengan sarana Evangelischer Entwicklungsdienst (EED)