Layanan Informasi Indonesia dan Timor Timur

No. 16, Oktober 2002

Daftar isi

Dari Kerja Ornop:
Acara dan Pertemuan:
  • Dari Kerja Pers dan Pelobian:
  • Indonesia/Timor Timur dalam politik Jerman dan Uni Eropa: Laporan dan Publikasi:

    Dari Kerja Ornop:

    Acara dan Pertemuan:

    Pertemuan jaringan kerja ke-10 NGO Indonesia dan Timor Timur, 18-20 Nopember 2002 di Celle

    Wakil-wakil NGO dan perorangan yang bekerja mengenai Indonesia dan Timor Timur pada tanggal 18-20 November menghadiri lokakarya di Celle. Sebenarnya terorisme bukan hal yang baru di Indonesia namun pemerintah Indonesia sampai kini masih memungkiri keberadaanya. Perang melawan terorisme dikhawatirkan mempunyai dampak politis, intelijen dan ekonomis yang dalam yang memudahkan militer untuk kembali berkuasa. Masyarakat sipil di Indonesia juga mesti dipertanyakan kestabilannya untuk tidak mudah diprovokasi sehingga terjadi konflik berbau kekerasan. Jaringan kerja memutuskan untuk mengadakan pengumpulan dana guna membantu korban orang Indonesia di Bali.

    Sehubungan dengan tema „Impunitas dan kesulitan dalam menghadapi masa lalu di Indonesia dan Timor Timur“ Alex Flor (Watch Indonesia! ) melaporkan hasil pengamatannya terhadap proses pengadilan ad hoc mengenai pelanggaran HAM di Timor Timur tahun 1999 yang berlangsung di Jakarta. Watch Indonesia! bekerja sama dengan organisasi kegerejaan telah mengutus pengacara HAM Bernd Häusler (wakil presiden dewan pengacara di Berlin) melakukan pengamatan hukum independen di Jakarta. Pengacara Bernd Häusler mengkritik ketiadaan beberapa barang bukti di pengadilan. Andrea Fleschenberg melaporkan proses pengkajian ulang dari sudut pandang orang Timor Timur yang mempunyai dua pandangan berbeda: sebagian besar masyarakat menginginkan pembentukan pengadilan HAM internasional, sedangkan pemerintah berniat mengorbankan pengkajian ulang masa lalu demi rekonsiliasi.

    Ingeborg Wick dari „Südwind“ memperkenalkan kampanye „pakaian bersih“ (Clean Clothes Campaign) yang memperjuangkan perbaikan situasi pekerja di industri tekstil dengan cara mendesak perusahaan Jerman untuk menerapkan "kodeks sikap", supaya memenuhi standar-standar tertentu dan melakukan pemeriksaan independen. Perekonomian Indonesia semakin dilemhkan oleh karena hilangnya restriksi impor di negara-negara industri dan liberalisasi pasar dunia. Oleh karena itu, keberadaan suatu peraturan internasional yang  memperhatikan standar sosial adalah sangat penting.

    Hok An dari Imbas memberikan analisa menyeluruh mengenai krisis sosial dan ekonomi di Indonesia yang terus berlangsung. Menurutnya, perubahan politis menyeluruh sangat diperlukan: militarisme mesti ditiadakan dan mesti dicari solusi damai untuk konflik-konflik yang ada. Pengaruh kuat mafia mesti dipatahkan dan lembaga demokratis dibangun. Subordinasi tentara harus dilaksanakan dan monopol kekuasaan mesti berada di tangan negara. Indonesia memerlukan visi dan kontrak sosial menyeluruh yang baru. Sumber daya sosial harus digunakan untuk membentuk suatu elite baru yang mengkoordinasi partisipasi masyarakat dan turut mengawasi pekerjaan pemerintah.

    Mengambil contoh pada perusahaan APP, Barbara Happe dari „Urgewald“ menjelaskan hubungan antara proyek-proyek industri kayu yang mendapat jaminan kredit ekspor Hermes dan dampak buruknya untuk lingkungan hidup.  Deforestasi dan eksploitasi lingkungan hidup selama 4 tahun terakhir ini sudah tidak terkontrol lagi, ujar Marianne Klute (Watch Indonesia!). Politik lingkungan hidup di Indonesia belum menunjukkan perubahan cara berpikir dan kurang daya implementasi.

    Akhir pertemuan diisi dengan diskusi mengenai alternativ kemungkinan guna memperkuat masyarakat sipil di Timor Timur. Pengembangan masyarakat sipil di Timor Timur adalah tugas yang khususnya di tingkat distrik sangat sulit dilakukan, nilai Joachim Schwarz, yang pernah bertugas sebagai HAO (Human Affairs Officer) untuk UNTAET.

    Forum sepakat bahwa isu-isu utama LSM dalam pekerjaan lobinya adalah menuntut pengadilan internasional yang mengusut kejahatan HAM di Timor Timur serta menghentikan impunitas di Indonesia.
     

    „Indonesia – Perempuan menghadapi kekerasan“, lembaga misionaris gereja protestan Jerman barat daya (EMS), 25-27 Oktober 2002

    Lembaga Misionaris Kristen Protestan di Jerman bagian barat daya (EMS) tahun ini melakukan pertemuan mengenai Indonesia di kota Stuttgart. Judul pertemuan di hari pertama: „Perempuan menghadapi aksi kekerasan“ – Konflik-konflik sosial, politik dan agamais: Bagaimana hal tersebut dihadapi perempuan Indonesia?“ Kelompok kerja diberi kesempatan untuk bertukar pengalaman. Iris Widmann menjelaskan kegiatan sukarela di Sulawesi, kelompok kerja dari Stuttgart/Rohr menceritakan perjalanannya ke Indonesia dan kelompok studi „Eine Welt“ dari kota Nürtingen memperkenalkan kegiatan mereka. Hari berikutnya digunakan untuk bertukar informasi. Pembicara EMS, pendeta David Tulaar, membawakan makalah mengenai situasi politik di Indonesia. Marianne Klute dari Watch Indonesia! membawakan makalah berjudul „Aksi kekerasan terhadap perempuan – Perempuan menentang aksi kekerasan di Indonesia“. Pendeta Maureen Tubalawony-Marquardt memaparkan derita yang dialami perempuan oleh aksi kekerasan dan cara mereka untuk menghadapinya dengan mengambil beberapa contoh dari Maluku. Hari ketiga diisi dengan diskusi dalam kelompok kerja dengan tiga tema: situasi perempuan yang bekerja di pulau Batam, situasi petani perempuan di LSM Yapidi di Sumatra Utara dan kondisi kerja pembantu rumah tangga perempuan. Pertemuan berkesimpulan bahwa permasalahan kekerasan terhadap perempuan memang sudah dapat dibahas dan dianalisa secara terbuka di Indonesia. Kesadaran mengenai permasalahan ini sudah ada dan kaum perempuan sudah bisa partisipasi secara aktif dalam proses demokratisasi. Walaupun demikian, perempuan masih sering menjadi korban pertama di daerah-daerah konflik. Diseluruh Indonesia dapat dilihat gejala feminisasi kemiskinan yang dampaknya sangat berat bagi kaum perempuan di Indonesia.
     

    Pengumuman Pertemuan Solidaritas Internasional Ketiga untuk Papua Barat, London, 4 Juni 2002

    Dalam pertemuan solidaritas internasional ketiga untuk Papua Barat di London, 20 organisasi dari 15 negara menegaskan dukungannya untuk tuntutan hak untuk menentukan nasib sendiri rakyat Papua Barat. Mereka menyerukan pemerintah Indonesia untuk melakukan dialog damai dengan para pemimpin masyarakat Papua – termasuk presidium majelis Papua – dengan perantaraan pihak ketiga yang independen. Masyarakat internasional diminta dukungannya dan pemerintah Indonesia diminta untuk mengikuti saran masyarakat, yaitu menetapkan Papua Barat menjadi zone damai. Pemerintah Indonesia diserukan supaya menarik TNI dan Brimob dari Papua Barat. Anggota-anggota PBB diminta untuk menggerakkan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, supaya memeriksa ulang peranan PBB dalam „Act of Free Choice“ tahun 1968-69 yang dinilai meragukan itu.

    Peserta pertemuan menyatakan solidaritasnya dengan „Solidaritas Nasional Untuk Papua” (SNUP) yang berkedudukan di Jakarta. Mereka menyampaikan kekhawatirannya melihat situasi HAM memburuk di Papua. Beberapa tokoh aktivis HAM diintimidasi dengan ancaman pembunuhan setelah menemukan informasi yang menunjuk pada keterlibatan anggota TNI dalam pembunuhan tiga staf Freeport. Menurut mereka, adalah sangat penting untuk mengutus pengamat HAM independen PBB ke Papua Barat. Pembunuhan Theys Eluay, ketua presidium Papua, Nopember tahun lalu, mesti diinvestigasi oleh komisi ahli independen.

    Peserta pertemuan menekankan pentingnya peranan perempuan Papua guna pengembangan HAM. Aksi-aksi yang dilakukan Solidaritas Perempuan Papua (SPP) dan kelompok lainnya dalam membela hak-hak politis, sosial, ekonomis dan budayanya dinilai sangat baik. Mereka menuntut supaya diadakan kampanye yang mempermasalahkan aksi kekerasan terhadap perempuan berbentuk pemerkosaan yang dilakukan aparat keamanan dan yang terjadi juga di rumah tangga.

    Masyarakat internasional diminta untuk mendorong pemerintah Indonesia melakukan pencegahan pelanggaran HAM di Papua Barat yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan transnasional seperti Freeport McMoran, Rio Tinto dan BP. Pelanggaran HAM oleh Indonesia karena membagi konsesi penebangan hutan untuk tanah warisan masyarakat adat juga mesti dihentikan.
     
     

    Dari Kerja Pers dan Pelobian:

    HAM di Indonesia setelah peristiwa bom di Bali, keterangan pers Lembaga Misionaris Jerman Barat Daya (EMS), 22 Oktober 2002

    Dalam keterangan persnya Lembaga Misionaris Kristen Protestan di Jerman bagian barat daya (EMS) dan anggota Dewan Gereja Asia mengingatkan konsekuensi yang ada dari aksi teror di Bali. Tony Waworuntu dari „Christian Conference of Asia“ mengingatkan bahwa „perang melawan terorisme“ yang dimulai pemerintah Indonesia setelah peristiwa bom Bali dapat dipakai sebagai dalih untuk menekan kondisi HAM. Waworunto dan penasihat EMS untuk Indonesia, pendeta David Tulaar, melihat bahwa dekrit anti teror yang dikeluarkan pemerintah Indonesia yang memberikan wewenang luas pada satuan anti teror akan menguatkan militer Indonesia. Karena definisi „terorisme“ dalam dekrit tersebut sangat luas maka oposisi sosial dan politik akan mudah tertukar dengan terorisme dan sama-sama akan diperangi. Hal ini „dapat membahayakan „proses reformasi yang dimulai setelah berakhirnya resim diktator Suharto dan usaha penguatan masyarakat sipil, serta mendukung militarisasi masyarakat dan semakin melemahkan negara Indonesia“, ujar Tulaar.

    Di lain pihak, Waworuntu menegaskan bahwa perang melawan terorisme di Asia seharusnya berarti „mengatasi ketimpangan politis dan ekonomis yang ada di daerah ini“. Di banyak negara aksi kekerasan, jatuhnya korban dan konflik berdarah adalah „aturan sehari-hari“. Ia menyerukan negara-negara industri menganggap serius aksi kekerasan sama dengan aksi teroris dan selain itu supaya dalam upaya memerangi terorisme menunjukkan lebih banyak kreativitas dan visi daripada yang ditunjukkan selama ini. Tulaar mengingatkan, setelah terjadinya bom di Bali dan peristiwa 11 September tendensi untuk membenci dan memusuhi terutama terhadap kaum muslim semakin meningkat. „Gereja diserukan untuk membuka dialog mengenai HAM dan keamanan dan bukannya mengenai terorisme“, himbau Tulaar.
     
     

    Indonesia/Timor Timur dalam politik Jerman dan Uni Eropa:

    Pertemuan Interim Consultative Group on Indonesia (CGI), 1 Nopember 2002

    Karena peristiwa bom di Bali maka pertemuan reguler CGI ke-12 yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan Oktober terpaksa diundur ke 21-22 Januari 2003. Untuk itu, tanggal 1 Nopember 2002 diadakan pertemuan interim informal. Dari peristiwa di Bali, CGI menantikan adanya dampak langsung terhadap ekonomi dan tidak langsung terhadap situasi sosial. Pertumbuhan ekonomi diramalkan akan melemah, demikian juga investasi dan konsumsi di Indonesia dinantikan akan berkurang. Justru di masa yang sangat menentukan untuk pertumbuhan ekonomi dan perkembangan negara, CGI terus akan memberikan bantuan keuangan pada Indonesia. Untuk tahun depan, CGI menjanjikan paket dana tambahan untuk menutupi defisit negara. Untuk itu, CGI mendesak supaya reformasi di bidang ekonomi dan hukum dilakukan dengan sungguh-sungguh. Situasi keamanan terutama di sektor ekonomi harus diperbaiki juga. Demikian pula diminta supaya menetapkan undang-undang investasi baru, pemerangan korupsi dan penghapusan monopol negara. Situasi HAM juga mesti diperbaiki. Menteri Perekonomian Kuntjoro-Jakti, menegaskan keinginan pemerintah Indonesia untuk memperbaiki keamanan dan iklim investasi dan untuk merealisasikan agenda reformasi Bank Dunia dan Asian Development Bank. MPR memutuskan untuk menaikkan anggaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Sumber: Donors And The Indonesian Government Agree To Proceed With The CGI Meeting Early Next Year, News Release No: 2003/114/EAP, Jakarta October 16, 2002 The World Bank and Coordinating Ministry of Economic Affairs, RI, November 1, 2002,  Press Release: Donors discuss concrete Steps to support Indonesia's Post-Bali Needs
     

    46 juta Euro dari Uni Eropa untuk Program Bantuan di Timor Timur

    Duta besar Komisi Eropa untuk Timor Timur Sabato Della Monica dan wakil menteri luar negeri Timor Timur Jorge Teme pada 21 Oktober 2002 di Dili menandatangani paket bantuan sejumlah 46 juta Euro dari Uni Eropa. Dana tersebut direncanakan akan disalurkan selama tiga tahun (2002-2004) melalui proyek-proyek pembangunan di bidang kesehatan dan untuk pembangunan desa serta untuk mendukung usaha memerangi kemiskinan. Komisi Eropa sampai saat ini telah menyalurkan dana sebesar 137 juta Euro untuk pembangunan kembali Timor Timur.

    Sumber: Lusa, 21Oktober 2002 dan AFP, 21Oktober 2002
     
     

    Laporan dan Publikasi:

    Laporan ICG: „Impact of the Bali Bombings“, Indonesia Briefing, Jakarta, Brussel, 24 Oktober 2002

    Briefing Paper aktual ICG mengangkat dampak pokok aksi teror bom Bali terhadap berbagai sektor kemasyarakatan dan memberi penilaian situasi aktual yang memperhatikan opini-opini yang beredar di masyarakat Indonesia.

    Mengingat turunya popularitas Megawati, diskusi politik dalam negeri terutama mempertanyakan kemungkinan adanya saingan politik di pemilihan presiden langsung tahun 2004. Menurut penilaian ICG, TNI ada kemungkinan untuk memperkuat pengaruh politiknya melihat pada undang-undang anti teror baru, usaha mencari aliansi dalam perang melawan terorisme, kehilangan prestisnya polisi dan hilangannya kepercayan pada pemerintahan. Mengingat pengalaman buruk dengan undang-undang anti-subversi di jaman Suharto, ketakutan bahwa undang-undang baru di daerah konflik sangat mudah untuk disalahgunakan sebagai dalih untuk melanggar HAM atas nama „perang melawan gerakan kemerdekaan“ dapatlah dimengerti.

    Peristiwa 12 Oktober sangat jelas merugikan perekonomian nasional. Perekonomian Indonesia yang belum lama pulih dari dampak konflik-konflik etnis dan agama sehingga investor asing kabur kini juga harus memperhitungkan kerugian di sektor pariwisata yang pusatnya di Bali. Kerugian yang ditanggung Bali adalah paling berat baik itu di sektor ekonomi (naiknya tingkat pengangguran, pertumbuhan ekonomi yang rendah), maupun di sektor sosial-politis (meningkatnya ketegangan etnis dan religius antara penduduk asli dan pendatang).

    Yang belum jelas sampai sekarang adalah konsekuensi yang ditanggung kelompok Islam radikal seperti Jemaah Islamiyah, Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Jihad, yang baru saja dibubarkan, setelah beberapa pemimpinnya ditahan. (N.B.: Tidak lama setelah terbitnya berita ini, FPI pula mengumumkan pembubaran dirinya, red.). Pada akhirnya sebagian besar masyarakat Indonesia telah diyakinkan akan keberadaan aktivitas teroris di negaranya. Meskipun demikian, masih ada ketidaksepakatan, siapa yang mendalangi pemboman tersebut dan cara apa yang terbaik untuk mengatasi ancaman terorisme. Ketidakjelasan yang ada menurut ICG hanya bisa diatasi kalau ada reformasi di semua sektor kemasyarakatan dan kenegaraan secara konsekuen.

    http://www.crisisweb.org/projects/showreport.cfm?reportid=804
     

    Laporan FES: „Terror in Paradise“ - Serangan di Bali, Hans-Joachim Esderts, Jakarta, laporan singkat FES Jakarta bagian kerja sama pembangunan Asia Pasifik, 21 Oktober 2002

    Dalam laporan singkatnya, Hans-Joachim Esderts, pemimpin FES Jakarta, menganalisa latar belakang dan dampaknya serangan bom di Bali untuk Indonesia. Selain itu dia menjelaskan bagaimana situasi sosial ekonomi di Indonesia telah memungkinkan terorisme internasional merekrut pengikut-pengikutnya dan memberi mereka tempat berlindung. „Orang religius yang fanatik dan ‚pejuang jihad' yang brutal menikmati kebebasan beragitasi dan beraksi dan kebebasan mimbar“, ujar Esderts. „Kurangnya semangat politik, pemerintah yang lemah, efisiensi yang kurang serta pendanaan yang lemah aparat keamanan memungkinkan kaum teroris dari dalam dan luar negeri dan dari sindikat kriminal untuk beroperasi di Indonesia.“

    Laporan berpendapat bahwa serangan bom Bali membuat Indonesia yang kini sedang berada dalam masa transisi demokratisasi semakin terpuruk ke dalam jurang krisis ekonomi dan moral. Reputasi internasional negara Indonesia memburuk, kerugian ekonominya luar biasa dan belum dapat diperkirakan.

    Pengambil keuntungan peristiwa tersebut menurut Esderts adalah mereka yang menolak masyarakat terbuka dan pluralisme politis dan religius serta menginginkan kembalinya struktur otoriter dibangun. Menurut Esderts, Indonesia tidak membutuhkan undang-undang anti teror, karena bahaya penyalahgunaanya sangat tinggi. Undang-undang inipun diprotes oleh banyak organisasi HAM dengan dasar yang kuat. Yang lebih diperlukan Indonesia adalah aparat penegak hukum yang independen dan tidak korup, dinas rahasia yang efisien dan kepolisian yang profesional. Setelah UU anti-teror ada risiko bahwa ketidakpastian hukum dan kesewenang-wenangan polisi meningkat dan aspek HAM dikorbankan oleh perang melawan terorisme. Pemimpin FES melihat proses demokratisasi terancam bahaya dan memperkirakan, rencana reformasi sekarang ini akan mengalami penundaan.

    Negara anggota ASEAN mengamati secara kritis bagaimana kelompok radikal Islam di Indonesia berkembang dan menyebarluaskan rasa kebencian antara kelompok religius dan etnis. Terutama kelemahan kepemimpinan dan ketidaktegasan dalam mengambil keputusan pemerintahan Megawati serta sikap anggap enteng bahaya-bahaya nyata sangat membuat khawatir negara-negara tetangga. Pengambil untung situasi ini adalah golongan-golongan radikal dan kriminal baik itu dalam aparat kepolisian maupun militer yang memicu konflik dan memperkaya diri. Laporan akhirnya berkesimpulan bahwa yang paling diuntungkan oleh serangan bom Bali adalah militer Indonesia. Militer sebagai kubu pertahanan kini melalui perang melawan terorisme dapat mengharapkan bantuan persenjataan, material dan pelatihan militer, demikian juga ada harapan bahwa kongres AS akan segera membatalkan sanksi-sanksinya sehubungan dengan pelanggaran HAM di Timor Timur.

    http://www.fes.de/asien
     

    Laporan U.S.-Department of State: „International Religious Freedom Report“, 8 Oktober 2002

    Laporan tahunan Department of State Amerika Serikat mengenai kebebasan agama mengemukakan bahwa di Indonesia perlindungan golongan-golongan beragama yang merupakan minoritas memang terjamin oleh konstitusi, namun pada kenyataanya sering ada diskriminasi dan intimidasi. Perhatian utama laporan ditujukan pada hubungan tegang antara kelompok mayoritas Muslim dan kelompok minoritas Kristen di Indonesia. Laporan ini menekankan kegagalan pemerintah dan aparat keamanan Indonesia dalam melerai pertikaian-pertikaian, membawa orang yang bersalah ke depan pengadilan dan mencegah aksi penyerangan selanjutnya. Impunitas jelas turut membantu penyebaran dan kelanjutan aksi kekerasan di negara ini.

    Ketika laporan ditulis, terlihat sikap keagamaan yang intoleran semakin meningkat terutama dari pihak kelompok ekstrem Muslim terhadap kelompok minoritas, diantaranya kaum Kristen. Bertolak pada situasi tersebut ada ketakutan bahwa Islam di Indonesia baik di sektor ekonomi maupun di sektor politik dan pendidikan akan semakin kuat.

    Laporan hanya menyinggung sepintas saja, bahwa konflik-konflik tersebut jarang sekali digerakkan oleh motivasi agama dan sebenarnya lebih sering bermotivasikan kepentigan ekonomi dan perselisihan soal hak tanah. Padahal kalau dilihat bahwa agama hanyalah satu dari beberapa penyebab konflik, maka cara pendekatan ke tema ini mestinya berbeda. Pengamatan yang terlalu terpaku pada satu aspek seperti yang terjadi dalam laporan itu tidak membawa informasi yang berguna dan justru mengaburkan fakta yang ada. Jika saja latar belakang ekonomi dari konflik-konflik di Indonesia diakui, maka mau tidak mau pemerintahan AS harus juga mempertanyakan peranannya. Dalam hal ini laporan dapat dinilai gagal, karena hanya dapat menyatakan bahwa „pemerintah AS dalam politiknya memajukan HAM, mendiskusikan pertanyaan-pertanyan yang menyangkut  kebebasan beragama dengan pemerintah Indonesia.“ Kepentingan-kepentingan ekonomi AS dan negara-negara lainnya yang mengorbankan HAM demi mengejar keuntungan sehingga menimbulkan konflik sama sekali tidak disinggung dalam laporan ini.

    http://www.state.gov/g/drl/rls/irf/2002/
     

    Laporan ICG: Flores: A Microcosm of Indonesia's Problems, Asia Briefing, Jakarta, Brussel, 10 Oktober 2002

    Masalah-masalah besar di Indonesia – ketegangan regional, persaingan antara polisi dan militer serta korupsi – biasanya tidak mendapat perhatian di dalam dan luar negeri, kecuali kalau itu terjadi di daerah konflik dikenal seperti Aceh, Papua, Maluku atau Poso di Sulawesi. Justru aksi kekerasan di daerah yang kurang mendapat perhatian mencerminkan kesulitan-kesulitan yang mesti diatasi oleh Indonesia: Bagaimana caranya mengendalikan pengaruh militer terhadap politik lokal? Bagaimana menghentikan korupsi dan nepotisme polisi dan militer? Bagaimana caranya membuat kepolisian lebih profesional? Apakah desentralisasi dapat membuka kemungkinan mencegah aksi kekerasan? Bagaimana caranya menghindar konflik-konflik baru?

    Menurut briefing paper ICG dari 10 Oktober 2002 peristiwa di Maumere pada bulan Juli dan Agustus 2002 dianggap „simptomatis“ untuk masalah-masalah besar di Indonesia. Belum cukup bahwa Flores harus menanggung akibatnya konflik Timor Timur, karena tentara yang bertugas di Timor Timur tahun 1999 kini dipusatkan di Flores, pada bulan Juli dan Agustus 2002 di kota kecil Maumere terjadi bentrokan antara polisi dan militer dan juga ada perkara pengadilan terhadap seorang pegawai negeri yang dekat dengan polisi dan militer yang terlibat mafia penyelundup kayu.

    Latar belakang peristiwa ini masih ada hubungannya dengan desentralisasi, tulis ICG. Otonomi daerah sangat merubah klima politik Indonesia secara mendasar. Persaingan antara polisi dan militer dan kedekatan beberapa politikus daerah dengan salah satu dari yang kedua belah pihak sangat memperuncing ketegangan. Reformasi administrasi sesuai dengan proses desentralisasi telah membentuk banyak kabupaten dan kecamatan baru dengan kemungkinan korupsi yang baru. Maumere umpamanya akan dijadikan ibu kota baru propinsi Flores. Selama ini Flores adalah bagian dari propinsi Nusa Tenggara Timur yang ibu kotanya di Kupang.

    Laporan ICG meragukan kemungkinan memecahkan masalah-masalah seperti di Maumere di tingkat lokal, karena penyebab masalah-masalah itu tidak hanya berada di Flores, namun di tingkat nasional. Selanjutnya laporan berkesimpulan, konflik-konflik yang ada di Aceh, Papua dan Maluku juga tidak hanya bisa diselesaikan dengan politik khusus daerah-daerah itu sendiri. Menurut pengamatan laporan, masalah-masalah di Indonesia hanya bisa diselesaikan melalui reformasi polisi dan militer.

    http://www.crisisweb.org/projects/showreport.cfm?reportid=793
     

    Dokumentasi epd No. 45: „Fit for Fair – Demi kondisi kerja manusiawi di industri pakaian olahraga di seluruh dunia“, 28 Oktober 2002

    Kongres olahraga internasional epd mengeluarkan dokumentasi berjudul „Fit for Fair“ – Demi kondisi kerja manusiawi di industri pakaian olahraga di seluruh dunia“. Organisator kongres yang berlangsung di Cologne tanggal 3-4 Mai adalah „Kampanye pakaian bersih (CCC) dan komite mahasiswa akademi olahraga (ASTA). Dokumentasi ini berisikan kata sambutan, ceramah-ceramah, berita pers, studi kasus dan informasi-informasi tambahan.

    Tema yang diangkat selama kongres merupakan masalah pokok globalisasi, yaitu jurang yang semakin dalam antara mayoritas kaum miskin dan kelompok kaum minoritas yang diuntungkan oleh globalisasi. Permasalahan ini sangat nyata dalam dunia usaha pakaian olahraga. Produsen barang-barang bermerek sebenarnya tidak banyak memproduksi sendiri, melainkan mereka membeli sebagian besar produknya di pasar dunia, antara lain dari industri pelengkap di Indonesia. Perusahaan-perusahaan ini sering melanggar UU perburuhan yang sangat mendasar. Produsen barang-barang bermerek sangat memperhatikan nama baiknya dan sangat terdesak oleh kritik karena buruknya kondisi kerja di industri pelengkap dan kodeks sikap yang baru saja diterapkan.

    Lihat juga: Layanan informasi Indonesia dan Timor Timur, No. 12, Mai 2002: Fit for Fair – Kongres internasional di Cologne, dan: Kunjungan Serikat kerja dan anggota-anggota LSM dari Indonesia.

    Dokumentasi setebal 51 halaman dapat dipesan seharga € 6,90- di: Gemeinschaftswerk der Evangelischen Publizistik (GEP) GmbH, Postfach 50 05 50, 60439 Frankfurt am Main, vertrieb@gep.de
     

    Acara-acara aktual:

    Acara-acara aktual mengenai Indonesia dan Timor Timur dapat dibaca di homepage:
    http://www.watchindonesia.org/Kalender.htm



    Penerbit: Watch Indonesia! e.V. Bekerjasama dengan Umverteilen! Yayasan untuk Dunia Solidaritas
    Redaksi: Alex Flor, Marianne Klute, Monika Schlicher, Nikola Hüging, Oliver Venz, Tia Mboeik.
    Layanan Informasi ini didukung dengan sarana Evangelischer Entwicklungsdienst (EED)
     
    Zurück zur Hauptseite Watch Indonesia! e.V. Back to Mainpage