Peristiwa 27 Juli meninggalkan luka yang mendalam bagi bangsa Indonesia.
Sebuah fragmen kekerasan yang kehadirannya dalam sejarah mungkin tak pernah
dikehendaki. Inilah perhentian penting dalam perjalanan kapal Orde Baru.
Partai Demokrasi Indonesia semakin tercabi-cabik. Sejumlah anak mudatertumpah
getah. Merekapara aktifis Partai Rakyat Demokratik dituduh menunggangi,
dikejar, ditangkap, ditahan dan dituduh subversif. Organisasi non-pemerintah
digebuk, seorang pemimpin gerakan buruh diadili.
„Pemerintah malah makin cenderung menggunakan kekerasan fisik dalam
menghadapi gerakan perubahan masyarakat,“demikian Arbi Sanit, pengajar
Universitas Indonesia, dalam Pengantar buku ini. Pemerintah menuduh komunisme
di belakang semua ini. Tetapi poll terhadap kalangan kelas menengah di
berbagai kota menyimpulkan bahwa pemerintah yang menjadi penyebabnya. Pemerintahlah
yang berada di belakang kudeta terhadap pemimpin PDI Megawati Soekarnoputri.
Perampasan paksa markas besar PDI menimbulkan kemarahan banyak orang. Tak
terkendali. Meletuslah kerusuhan. Gedung-gedung dibakar, korban tak berdosa
berjatuhan.
Inilah salah satu cuplikan wacana demokrasi Indonesia yang dalam perkembangannya
justru mengajarkan kekerasan fisik daripada realitas demokrasi itu sendiri.