Peristiwa  27 Juli
Institut Studi Arus Informasi, 1997
275 halaman
2,50 Euro

Peristiwa 27 Juli meninggalkan luka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Sebuah fragmen kekerasan yang kehadirannya dalam sejarah mungkin tak pernah dikehendaki. Inilah perhentian penting dalam perjalanan kapal Orde Baru. Partai Demokrasi Indonesia semakin tercabi-cabik. Sejumlah anak mudatertumpah getah. Merekapara aktifis Partai Rakyat Demokratik dituduh menunggangi, dikejar, ditangkap, ditahan dan dituduh subversif. Organisasi non-pemerintah digebuk, seorang pemimpin gerakan buruh diadili.
„Pemerintah malah makin cenderung menggunakan kekerasan fisik dalam menghadapi gerakan perubahan masyarakat,“demikian Arbi Sanit, pengajar Universitas Indonesia, dalam Pengantar buku ini. Pemerintah menuduh komunisme di belakang semua ini. Tetapi poll terhadap kalangan kelas menengah di berbagai kota menyimpulkan bahwa pemerintah yang menjadi penyebabnya. Pemerintahlah yang berada di belakang kudeta terhadap pemimpin PDI Megawati Soekarnoputri. Perampasan paksa markas besar PDI menimbulkan kemarahan banyak orang. Tak terkendali. Meletuslah kerusuhan. Gedung-gedung dibakar, korban tak berdosa berjatuhan.
Inilah salah satu cuplikan wacana demokrasi Indonesia yang dalam perkembangannya justru mengajarkan kekerasan fisik daripada realitas demokrasi itu sendiri.

kembali