Pemberantasan Korupsi Perlu Keterlibatan Rakyat

Radio Nederland Wereldomroep, 10 Mei 2005

Pendirian Komisi Meningkatkan Korupsi Bukan Pendirian Komisi-Komisi

Wawancara Ranesi di Hilversum, 10 Mei 2005

Upaya memberantas korupsi tidak akan berhasil kalau terus didirikan pelbagai komisi-komisi anti korupsi. Jaminan keberhasilan pemberantasan korupsi adalah keterlibatan rakyat langsung dalam menyusun anggaran daerah. Pendirian komisi-komisi hanya akan memperbesar birokasi dan meningkatkan korupsi. Itulah satu-satunya butir yang ada dalam buku baru berjudul „Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung, Kasus Indonesia dan Studi Perbandingan,“ yang ditulis oleh Mulyana W. Kusumah dan Pipit R. Kartawidjaja. Buku ini diluncurkan hari ini (10/05), dan kepada Pipit Rochijat Kartawidjaja ditanyakan di mana buku itu diluncurkan

RNWDi rutan Salemba Pipit Rochijat Kartawidjaja [PRK]: „Buku itu diluncurkan di Rutan Salemba, di tempat Mas Mulyana ditahan“.

Radio Nederland [RN]: „Kenapa dipilih lokasi itu?“

PRK: „Ya, begini ya. Kan, sebetulnya buku ini kan masuk ke percetakan tanggal 8 April, tanggal 9 Mas Mulyananya langsung dirutansalembakan. Jadi, hampir bersamalah, masuk percetakan besoknya dia langsung ditangkap“.

„Ada rencana tanggal 2 Mei, tadinya, mau peluncuran di hotel. Tapi karena Mas Mul masuk bui, hampir dibatalkan, kan. Temen-temen di Jakarta tanya, wah ini gimana? Launching bisa enggak jadi. Makanya saya usulkan, ya sudah di Rutan Salemba aja sekalian. Dengan harapan pihak penjara memberikan izin kepada Mas Mul untuk keluar beberapa menit, untuk meluncurkan buku itu“.

„Kalau secara simbolik, saya enggak tahu. Itu usul spontan saya aja waktu itu. Ya sudah di Rutan Salemba aja. Biasanya kalau di Eropa kan jarang kita dengan ada peluncuran buku gitu kan. Di hotel-hotel. Jadi saya bilang, ah sudah di Rutan Salemba saja, kenapa repot-repot“.

RN: „Jadi Anda tadi meluncurkan bersama-sama dengan Mulyana W. Kusumah?“

PRK: „Ternyata enggak bisa. Mas Mulyana itu ternyata diambil oleh KPK, dibawa ke Markas KPK, diperiksa terakhir katanya. Saya enggak ngerti kok momennya bersamaan ya. Mas Mul minta hari ini, eee, tiba-tiba hari ini juga dia diambil ke Markas KPK“.

„Jadi Mas Mul hanya sempat mengeluarkan satu pernyataan, gitu tentang buku ini. Ya dia hanya…., seperti juga saya mengucapkan sepatah dua patah tentang isi buku. Apa yang kita tulis bersama“.

Penahanan yang penuh keanehan

RN: „Menurut Anda sendiri bagaimana sih penahanan Mulyana oleh KPK ini?“

PRK: „Saya sendiri juga repot menjawab pertanyaan ini. Saya enggak tahu bagaimana tuduhannya, segala macem. Tapi, kalau diperkenankan saya mau menjawab dari sisi birokrasi Jerman ya. Karena saya bekerja di Jerman di dalam administrasi negara Jerman. Jadi maaf aja kalau titik pandang saya dari sudut sana“.

„Buat birokasi Jerman itu banyak keanehan. Pertama misalnya, pertemuan diam-diam itu kan saya tidak kenal. Aneh. Kalau dua lembaga bertemu diam-diam itu menurut saya sudah salah. Artinya kalau bertemu ya di kantor“.

„Terus kedua, KPK menerima uang sogokan pertama, itu juga sudah salah. Ketiga ketika Kharyansyah menjebak atau menangkap Mas Mul, itu juga keliru. Karena dengan mencoba menangkap itu kan dia memancing orang lain untuk berbuat kriminal“.

„Lantas yang keempat, hasil auditnya ini yang saya bingung. Kan begini, mestinya kan diaudit dulu sampai ambil kesimpulan, setelah memberikan kepada KPU untuk membenahkan segala macam. Hasil audit itu kan lantas diberikan kepada pihak yang berwenang, entah DPR, entah Kejaksaan. Hasilnya dulu beres, baru bisa diumumkan. Ya terjadi sekarang kan enggak. Sekarang kan ribut korupsi gara-gara soal kotak suaranya, sudah 0,4 mm tebalnya, korupsi bagaimana. Tapi, apakah hasil korupsi sudah terbongkar? Nah perang pers ini sekarang, perang opini. Ini yang saya ndak ngerti dari sisi birokrasi Jerman“.

„Terus kelima, semua tanggung jawab soal ini kan mestinya ada di tangan ketua KPU. Dia yang mestinya bertanggung jawab. Terlepas apakah ada korupsi atau tidak. Itu yang nanti kita serahkan kepada pihak yang membongkarnya. Ini proses hukum harus kita serahkan hasilnya kepada mereka. Selama ini saya tidak bisa berkata apakah itu terjadi korupsi atau tidak. Kan itu harus dibuktikan dulu“.

Tidak betul

RN: „Dengan kata lain Anda sangat mempertanyakan peran KPK ini ya?“

PRK: „Ya, gimana ya? Saya mempertanyakan pertemuan diam-diam saja menurut saya sudah ndak betul itu. Mestinya kan pertemuannya dalam bahasa Jermannya kan harus sachlich, di kantor. Terus resmi, ini pembeberan. Bukan diam-diam saja. Pertemuan pertama terima duit, pertemuan kedua nangkap orang“.

„Saya sebagai pengaudit keuangan negara di negara bagian Brandenburg tidak mengenal yang begituan. Aneh saja, saya bilang. Mungkin metoda Indonesia begitu“.

Meningkatkan korupsi

RN: „Salah satu hal juga yang mungkin agak berbeda, misalnya di Jerman atau di Belanda, kalau menangkap orang yang dituduh berbuat tindak kriminal, melanggar UU, itu selalu wewenang polisi, gitu. Tapi di Indonesia sekarang wewenang KPK. Itu bagaimana menurut Anda?“

PRK: „Ya itu, saya lihat dengan berdirinya Komisi Pemberantas Korupsi ada sesuatu yang tidak beres di Indonesia. Ndak beres itu karena lembaga yudikatifnya rupanya enggak terpuji. Itu satu“

„Yang kedua, bukan Komisi Pemberantas Korupsi saja, banyak komisi-komisi lain yang dibangun untuk membenahi segala ketidakberesan kejaksaan, polisi. Menurut saya aneh. Karena pembentukan-pembentukan ini sangat birokratis, membuka peluang untuk korupsi selanjutnya“.

Demikian Pipit Rochijat Kartawidjaja kepada Radio Nederland.<>

Print Friendly, PDF & Email

Tags: , , , , ,


Share
UA-74856012-1