Mereka yang Menggelar Aksi

Forum Keadilan, Nomor 4, Tahun IV, 08 Juni 1995

Sejumlah LSM mengaku bertanggung jawab atas demo di Jerman, ketika aparat Indonesia mengincar Bintang, Goenawan, dan Yeni. Siapa saja mereka?

Zuhri M, M. Cholil (Jakarta), dan IN (Jerman)

ForumlogoUrusan demonstrasi anti Indonesia di Jerman, awal April lalu, tampaknya kini hampir tak ada sangkut pautnya lagi dengan Sri Bintang Pamungkas. Dugaan-dugaan sebagai „dalang“, lalu pemasok bahan (voeding) dan ikut aksi demonstrasi sementara ini sudah dikesampingkan.

Begitu pula yang sempat disebut-sebut aparat keamanan terlibat sebagai „penggerak“ demo bersama Bintang, misalnya Goenawan Mohamad dan Yeni Rosa Damayanti. Mereka, menurut Direktur Reserse Mabes Polri, Brigjen (Pol.) Rusdihardjo, tanggal 22 Mei lalu, sudah tak diincar lagi sebagai calon tersangka. „Paling, mereka hanya dijadikan saksi untuk kasus Bintang,“ katanya.

Pada mulanya, Bintang memang mau dijerat dengan tuduhan mengipas para demonstran anti Indonesia di Jerman, awal April lalu. Namun, dugaan penyidik menjadi lemah, kecuali bukti tak kuat, juga karena sejumlah LSM di Jerman mengaku bertanggung jawab atas aksi-aksi yang sempat membuat kemarahan Presiden itu.

Selama kunjungan Presiden di Jerman; ada tujuh kali demonstrasi yang mengganggunya. Di Hannover ada tiga kali demonstrasi, dari tanggal 1 sampai 3 April 1995. Di Dusseldorf ada satu kali, di Bonn ada satu demonstrasi, dan terakhir dan terbesar di Dresden, dua kali demonstrasi.

Puluhan LSM mengaku terlibat dalam aksi „Hannover Fair Tandingan“ yang berlangsung seminggu lebih di awal April itu. Karena keterbatasan dana dan jumlah aktivis, organisasi-orgamsasi yang terlibat dalam aksi itu berbagi tugas: Misalnya, Amnesti Intemasional kebagian mengatur aksi di Hannover tanggal 1 April, LSM IFAK Gottingen menyelenggarakan „Pameran Lukisan Yayak Adya Yatmaka“, pemutaran film Cold Blood tanggal 2 April oleh Kelompok Anti-Perang. Hanya saja, demo di Hannover setelah tanggal 1 April sudah bukan tanggung jawab koordinasi Amnesti Intemasional dan LSM partisipan.

Lalu, aksi demonstrasi di Dresden dikoordinasi oleh Wolfspelz dan Timor und kein Trupp. Cuma, seperti di Hannover, Dusseldorf, dan Bonn, di Dresden juga ada kelompok-kelompok yang tidak termasuk partisipan resmi dan tidak mempunyai koordinasi dengan LSM pengatur aksi.

Organisasi-organisasi resmi biasanya menyandang nama e.V (eingetragenes Verein) sebagai tanda bukti diakui hukum Jerman. Perusahaan swasta atau negara akan lebih mudah mengucurkan dana ke LSM berpelat „e. V.“, karena alasan fiskal.

Berikut beberapa profil LSM terkemuka yang mengkoordinasi demonstrasi di Jerman

Wolfspelz dan Timor und kein Trupp

Siapa dalang demonstrasi Dresden yang membuat Presiden Soeharto marah? Organisasi yang mengaku sebagai pengorgamsir demo di Dresden adalah Wolfspelz dan Timor und kein Trupp (TkT). Dua organisasi ini aktif memperhatikan dan mempublikasikan masalah-masalah sekitar penjualan senjata dan pelanggaran hak asasi.

Publikasi Wolfspelz pertama tentang Indonesia adalah situasi politik dan ekonomi Indonesia sehubungan dengan perjanjian jual beli senjata dengan Swedia tahun 1986. SedangkanTkT ini punya aktivitas yang lebih lumayan. LSM ini memperoleh „Penghargaan Perdamaian 1994“ dari Gereja Protestan Jerman. Penghargaan itu juga didapat TkT karena organisasi inilah yang memprotes keras kebijakan penjualan kapal perang Jerman ke Indonesia tahun 1993. TkT melayangkan surat protesnya ke parlemen Jerman.

Wolfspelz maupun TkT sama-sama punya pemikiran bahwa kerja sama ekonomi dan militer Jerman dengan Indonesia merupakan skandal yang bisa memperburuk pelanggaran hak asasi. Informasi yang digunakan dua kelompok ini diperoleh dari penerbitan umum, publikasi Amnesti Intemasional, resolusi-resolusi PBB, dan sejumlah laporan resmi lain.

Ketika Wolfspelz dan TkT mengetahui rencana kunjungan Presiden ke Dresden, mereka segera mengirim surat protes dan menuntut agar Wali Kota Dresden dan Perdana Menteri Saxony menolak kedatangan Presiden. Surat ini ditandatangani 33 organisasi lain yang kemudian berpartisipasi dalam demo Dresden. Dan demo di Dresden ini lebih hiruk-pikuk dibandingkan dengan kota-kota lain. Penyelenggara demo dengan sadar menggunakan suara-suara bising dengan tujuan „menghentikan kunjungan Presiden dan membuatnya kembali ke hotel“. Namun, Wolfsplez sebagai koordinator utama aksi di Dresden menyatakan tidak mengetahui Gerakan Timor-Timur, Papua Merdeka, atau Aceh Merdeka yang terlibat juga dalam aksi di Dresden. „Tidak ada hubungan antara semua kelompok partisipan kami dengan gerakan-gerakan itu,“ demikian pernyataan resmi Johanna Kalex dari Wolfspelz.

Amnesti Internasional

LSM ini.punya jaringan di hampir semua negara di dunia. Amnesti Intemasional (AI) memfokuskan perhatian utamanya pada nasib tahanan politik dan korban hukuman mati. Jarang ada pelanggaran HAM yang lolos dari pengamatan AI.

Bagaimana tidak, jumlah anggota atau periset yang bekerja untuk AI sekitar 1,1 juta orang, yang tersebar di 8.000 kelompok lokal, di 70 negara. Teknik pengumpulan data AI tidak jauh berbeda dengan LSM lain. Kelebihannya, ya itu tadi, AI punya periset di banyak negara. Jika ada suatu kasus yang menyangkut pelanggaran hak asasi, AI segera memerintahkan periset untuk mengumpulkan fakta. Untuk setiap kasus, AI mensyaratkan minimal harus dua sumber fakta sebelum kasus tersebut dianggap benar.

AI didirikan oleh Peter Benenson pada 26 Mei 1961. Lembaga yang berkantor pusat di London ini punya dana raksasa. Anggarannya beberapa tahun lalu saja sudah mencapai Rp. 40 miliar. Porsi terbesar dananya dipakai untuk investigasi dan pembuatan laporan. LSM yang satu ini tidak berpihak pada suatu ideologi tertentu, sehingga laporannya dinilai lebih netral. AI memperoleh Nobel Perdamaian tahun 1974 dan 1977.

AI seksi Jerman yang berpusat di Bonn merupakan pengatur utama „Hannover Fair Tandingan“, sejumlah acara untuk „mendampingi“ pameran akbar Hannover yang dihadiri oleh Presiden Soeharto itu, dan demonstrasi tanggal 1 April di Hannover. Demonstrasi tanggal 2 dan 3 April di Hannover tidak tercantum dalam jadwal acaranya. LSM yang berpartisipasi di „Hannover Fair Tandingan” juga cukup banyak dan mereka membagi tugas. „Kami menentang pelanggaran hak asasi Manusia di mana pun juga, bukan hanya di Indonesia,“ kata juru bicara AI Seksi Jerman, Gunnar Kohne

Watch Indonesia!

Salah satu peserta aksi dari kegiatan „Hannover Fair Tandingan“, adalah Watch Indonesia!. LSM yang bermarkas di Berlin ini terdiri dari orang-orang Indonesia dan Jerman. Watch Indonesia! memberikan perhatian khusus terhadap masalah demokrasi, hak asasi manusia, dan perlindungan lingkungan hidup di Indonesia. Watch Indonesia! mempunyai seksi khusus masalah Timor Timur.

Watch Indonesia! ini juga sering membantu para tahanan politik atau pelarian dari Timor Timur. Mereka ini dibantu agar bisa diterima di berbagai negara, termasuk di Jerman. Untuk itu, Watch Indonesia! selalu berupaya mempengaruhi pemerintah dan parlemen Eropa untuk memperhatikan hak asasi para pendatang di Jerman.

LSM ini termasuk salah satu organisasi yang memprotes penjualan kapal dari Jerman ke Indonesia dan juga menggelar aksi demonstrasi menentang penjualan 40 pesawat tempur Hawk Inggris ke Indonesia. Watch Indonesia! juga aktif menggalang kampanye anti nuklir.

Salah seorang pendiri dan pengurusWath Indonesia! adalah Pipit R. Kartawidjaja. Tokoh pengritik Indonesia di Jerman ini masih berstatus warga negara Indonesia. Cuma, surat perjalanan laksana paspornya telah dicabut pada tahun 1987.

Pipit berpendapat bahwa sebagai pembayar pajak di Jerman, ia berhak urun rembuk dalam soal kebijaksanaan bantuan ekonomi dan hubungan bisnis. Itu pula salah satu alasannya mengapa ia terlibat menggelar aksi di Hannover. „Sudah seharusnyalah pemerintah Jerman mengikutsertakan hak asasi manusia dalam hubungan bisnis dengan negara mitranya kata Pipit. <>

Print Friendly, PDF & Email

Tags: , , , , , , , , ,


Share
UA-74856012-1