Kemampuan Metafora Melemah

Kompas, 09 September 2016

Humor yang Adil dan Beradab Bukan Melecehkan

JAKARTA, KOMPAS – Kemampuan bermetafora atau menggunakan kata-kata yang tidak merujuk makna sebenarnya dengan tujuan humor makin lemah. Diduga, inilah penyebab politikus kian mudah marah. Masyarakat pun dibiasakan marah. Naluri metafora dalam interaksi sosial menumpul.

Logo-Kompas-500x337„Bangsa itu sudah defisit akal, tetapi surplus doa,“ kata pengajar·filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung, pada Simposium Humor Nasional bertajuk „Humor yang Adil dan Beradab“, Kamis (8/9), di Jakarta.

Simposium diselenggarakan Institut Humor Indonesia Kini dan Perhimpunan Pecinta Humor. Hadir sebagai pembicara kunci Jaya Suprana.

Dipandu Wimar Witoelar, sesi pertama itu juga menampilkan pembicara lain, yakni Mohnmad Sobary, Deddy „Mi’ing” Gumelar, dan Pipit R Kartawidjaja.

Narasumber sesi kedua meliputi Toeti Heraty, Daniel Dhakidae, Edi Sedyawati, dan Sarlito Wirawan Sarwono. Sesi ini dimoderatori Sys NS. Sementara Radhar Panca Dahana diltunjuk sebagai perumus simposiun itu, dan Arswendo Atmowiloto diberi tugas menyampaikan kesimpulan-kesìmpulan.

Akhiri konfrontasi

Menurut Rocky, metafora itu alat humor yang cerdas. Sayangnya, kini, tidak kita dengar lagi dari mulut para pemimpin kita. Padahal, humor bisa menjadi peristiwa politik sebagai upaya menyelesaikan konfrontasi.

„Negara yang kekurangan humor tidak punya alasan untuk merdeka. Negara merdeka yang menyensor humor adalah negara yang kekurangan IQ (kecerdasan intelektual),“ ujar Rocky.

Deddy menceritakan pengalaman tampil sebagai pelawak grup Bagito pada masa Presiden Soeharto. Pada masa itu, melawak di depan Soeharto dibatasi. „Protokoler kepresidenan pada masa itu memberikan catatan tidak boleh ini, tidak boleh itu,“ katanya.

Adil dan beradab

Pembicara kunci simposium ini, Jaya Suprana, mengatakan, humor yang adil dan beradab ìtu menjunjung tinggi kepentingan manusia, bukan sebagaì humor yang melecehkan kehidupan dan martabat manusia. Satu di antara sekian banyak kesalahan terhadap humor, menurut dia, adalah keharusan lucu atau jenaka.

„Humor yang tertinggi itu humor yang mengharukan. Humor yang tidak adil mudah dilihat, seperti gelak tawa para Kurawa pada saat mengusir Pandawa,“ kata Jaya Suprana.

Kemampuan bermetafora para pemimpin masa lalu diunkap Sobary. menurut dia, dulu polisi memiliki selera humor yang baik, tetapi sekarang sudah tidak lagi.

Sobary menceritakan, dalam satu jamuan di Istana Negara, ketika Presiden Soekarno menerima lulusan tertinggi sekolah polisi, di antaranya ada Hoegeng Imam Santoso (1921-2004), yang kemudìan menjabat Kepala Kepolisian RI pada 1968-1971.

Soekarno ketika itu menanyakan nama Hoegeng, sebagai orang Jawa, mengapa bukan Sugeng atau Soekarno. Menurut Sobary, ketika itu Hoegeng menjawab, „Tak mungkin Soekarno, karena nama sopir saya Soekarno.“

„Pak Hoegeng termasuk sangat berani. Tetapi, Soekarno tidak marah,“ cerita Sobary.

Daniel Dhakidae mengatakan, pekerja humor berkecimpung dengan pengetahuan dalam arti seluas-luasnya. Pekerja humor mempermainkan fakta untuk mencari makna di baliknya, atau merusak fakta untuk mencari makna di baliknya yang sama sekali lain atau berbeda.

„Mereka membawa hidup ke titik ekstrem untuk menemukan sesuatu yang tidak terduga. Inilah kerja kaum cendekiawan yang sesungguhnya,“ kata Daniel. (NAW)

Print Friendly, PDF & Email

Tags: ,


Share

Silakan berkomentar

 
UA-74856012-1