"In the Spotlight"

Kontak senjata di Paniai, Papua

15 Desember 2011

oleh Alex Flor

OPM anniversary celebration

Foto:OPM

Kemarin sore (waktu Jerman) kami mengirim berita kasus Paniai, Papua, yang diambil dari situs West Papua Media kepada bagian pelanggan berita Watch Indonesia! yang kami menganggap menguasai Bahasa Inggris.

Berita oleh Nick Chesterfield itu menggambarkan dengan sangat drastis situasi aktuil di Paniai. Katanya operasi keamanan menyebabkan ribuan warga dusun melarikan diri ke hutan, sedangkan banyak rumah mereka dihangusbumikan. Menurut berita SMS yang diterima Nick di Ostrali sudah jatuh beberapa korban, dan dusun-dusun di daerah Paniai diteror oleh serangan helikopter.

Seharusnya kami cek dan recek berita mana yang benar dan mana yang cuma gosip. Tetapi tentu saja situasi di Papua tidak memungkinkan. Semua wartawan, lembaga HAM, pemantau independen atau pejabat pihak asing dilarang memantau langsung keadaan di Papua. Wartawan Indonesia pun takut. Dan berbagai kontak kami di daerah lagi susah menghubungi orang di Paniai melalui HP atau SMS. Begitulah situasinya. Bagaimana kami bisa cek dan recek?

Apakah benar 100%, 50% atau barangkali cuma 10% – bukankah berita ini sangat mengejutkan? Bukankah sangat dibutuhkan pemantauan yang independen dan/atau investigasi oleh Komnas HAM?!

Ternyata pihak tertentu masih belum menyadari masalahnya secara serius. Berita yang kami mengedarkan kemarin dinilai sebagai “propaganda” yang bertujuan untuk mencemari pemerintah Republik Indonesia. Bahkan kami dituduh bersimpati dengan pengacau keamanan.

Saya tidak bisa marah bila membaca surat reaksi seperti itu. Saya cuma sedih.
Dilampirkan berbagai berita “propaganda” dari “jurnal separatis” yang disponsori oleh “pihak asing yang pengin menghancurkan Indonesia” itu, yaitu Tempo online. <>
 


 

TEMPO.CO, Jayapura – Ketua Umum Persekutuan Gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman, meminta polisi dan anggota TNI segera ditarik dari Paniai. Konflik Paniai telah menimbulkan jatuh korban dan dapat memicu kekerasan berkelanjutan. “TNI dan Polisi harus segera ditarik. Tidak ada alasan aparat berada di Paniai dalam jumlah besar. Dulu Paniai tidak seperti ini, aman dan damai. Ketika ada aparat, barulah terjadi konflik,” kata Socratez Sofyan Yoman, Rabu malam, 14 Desember 2011. Ia mengatakan gerakan Papua merdeka di Paniai bukan sesuatu yang baru. “Mengapa tidak dari dulu kelompok bersenjata tersebut didekati. Kenapa baru sekarang aparat melakukan pendekatan. Yang kami sesalkan adalah pendekatan itu malah lewat jalan kekerasan,” ujarnya.

Yoman memandang tindakan represif hanya akan membuka pintu bagi perang tak berkesudahan antara petugas keamanan dan kelompok sipil bersenjata. Ia meminta pemerintah dan polisi mengkaji kembali kebijakan menggunakan senjata dalam menghadapi gerakan Papua Merdeka. “Jikalau lebih banyak keuntungannya tak menggunakan senjata, dan lebih banyak kerugian lewat baku tembak, ya dihentikan saja.” Gereja tidak akan sependapat bila polisi menyerbu gerombolan hingga timbul jatuh korban. “Itu tindakan biadab, melanggar HAM, aparat maunya apa. OPM juga umat Tuhan,” ujar dia. Baku tembak di Paniai antara brimob dan OPM, Selasa 13 Desember 2011 kemarin, telah memberi kerugian yang begitu besar. “ Ada sekitar 70 rumah dibakar polisi, rumah komandan, pos kami semuanya hangus,” kata Le Yeimo, juru bicara OPM Devisi II Makodam Pemka IV Paniai.

Dari pihak kepolisian, Bripka Supono tertembak di bagian kaki. “Pengejaran terus kami lakukan. Untuk sementara markas OPM di Eduda sudah kami kuasai. Kami sekarang masih mencari tempat persembunyian mereka lagi dan berusaha membersihkan gerakan ini,” kata Kepala Kepolisian Resor Paniai Ajun Komisaris Besar Polisi Janus Siregar. Ia berharap kelompok yang berseberangan segera menyerahkan diri agar tidak terjadi tembak-menembak. “Kami akan kejar terus sampai mereka menyerahkan diri,” tutur dia. by Jerry Omona/wartawan Tempo <>

TEMPO.CO, Jayapura – Organisasi Papua Merdeka Devisi II Makodam Pemka IV Paniai merilis tiga anggotanya tertembak saat kontak senjata dengan Brimob di Eduda, Paniai, Selasa, 13 Desember 2011. Tiga korban tersebut yakni Paskalis Kudiai, 15 tahun, tertembak di bagian kepala; Yohan Yogi, 21, terkena peluru di bagian kaki; dan Mon Yogi, 20, tertembak di punggung. “Ini yang diketahui. Sementara untuk korban luka yang lain dan mereka yang tewas akan saya sampaikan lagi,” kata juru bicara Organisasi Papua Merdeka Devisi II Makodam Pemka IV Paniai, Leo Yeimo, Rabu, 14 Desember 2011. Sebelumnya Leo mengatakan jumlah korban dari OPM sebanyak 20. Beberapa adalah warga sipil. “Ada dua puluh, itu saya tahu setelah diberi tahu komandan Jhon Magai Yogi. Ada juga warga sipil yang tertembak, sebagian besar adalah anggota kami. Untuk data lengkap yang baru, saya hanya dapat tiga, yang lain masih harus saya tanya lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan penyesalan datang begitu besar dari Komandan OPM di Wilayah Paniai, Jhon Yogi. “Ada korban dari pihak kami. Untuk balasan kepada aparat Indonesia, kami masih menunggu perintah. Dan untuk korban luka, semuanya dirawat di tempat kami,” kata Leo. Yeimo enggan menyebut tempat persembunyian mereka kini. “Untuk jumlah tentara kami ya ada, semuanya pejuang. Kami mundur jauh dari Eduda.”

Pemerintah Kabupaten Paniai berharap gangguan keamanan di daerah pegunungan itu tak berimbas pada kerja birokrasi. “Kami harap semua PNS tetap bekerja seperti biasa. Memang ada warga yang takut, tapi kami meminta agar semua tenang,” kata Kepala Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Paniai, FX Mote.  Sementara itu, pagi tadi sebuah helikopter milik TNI kembali melakukan pemantauan udara terhadap aktivitas kelompok bersenjata. “Helikopter keliling terus dari pagi, situasi sekarang masih tegang, khawatir ada serangan dari pihak orang di hutan,” kata Okto Pekey, warga Paniai.

Paniai merupakan salah satu kabupaten di Papua yang berada di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Pada zaman Belanda, Paniai disebut Wissel Meeren, sesuai dengan nama tiga danau yang terletak di sekitar Kota Enarotali. Danau ini ditemukan oleh seorang pilot berkebangsaan Belanda, Wissel, pada tahun 1938. Wilayah Paniai berbatasan dengan Kabupaten Waropen di sebelah utara, Mimika di sebelah selatan, Nabire di sebelah barat, dan Puncak Jaya di sebelah timur. Luas wilayahnya 18.104,63 km2 dengan Enarotali sebagai ibu kota. by Jerry Omona/wartawan Tempo <>

TEMPO.CO, Jayapura – Puluhan anggota Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka Devisi II Makodam Pemka IV Paniai terluka dalam insiden baku tembak dengan pasukan brigade mobil Indonesia di Paniai, Selasa, 13 Desember 2011. “Ada sekitar 20 yang terluka. Belum tahu berapa yang meninggal dan berapa yang luka. Besok saya akan ambil datanya dan kasih ke media,” kata Juru Bicara Organisasi Papua Merdeka Devisi II Makodam Pemka IV Paniai, Leo Yeimo, Selasa malam. Ia mengatakan, saat baku tembak terjadi, dia berada jauh dari lokasi. “Tapi polisi Indonesia tidak mendapat senjata kita. Kita mundur ke hutan. Belum tahu langkah apa yang akan diambil komandan Yogi. Kita masih menunggu,” ujarnya. Meski jauh, ia tetap mengetahui perkembangan di lapangan. “Saya agak jauh, tapi laporan terus saya dapat. Saya akan sampaikan lagi perkembangannya.”

Direktur Lembaga Penelitian Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum di Manokwari, Papua Barat, Yan Christian Warinussy meminta agar kontak senjata kedua pihak dihentikan. “Saat ini, baik rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia sudah berkeinginan sama untuk mengedepankan cara-cara damai. Berkenaan dengan itu, tindakan mengerahkan pasukan untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok sipil bersenjata, adalah suatu langkah mundur dan tidak pro-damai untuk mencari solusi yang holistik-integral terhadap masalah-masalah krusial di Tanah Papua,” urainya.

LP3BH Manokwari juga mendesak Dewan Perwakilan Rakyat untuk membuka sidang paripurna dan mengeluarkan keputusan politik menghentikan semua aksi kekerasan di Papua. “Harus mengedepankan cara-cara persuasif dalam mencari model penyelesaian yang damai,” ujarnya. by Jerry Omona/wartawan Tempo. <>

Print Friendly, PDF & Email

Tags: , , ,


Share
UA-74856012-1