Biarkan, Setgab bakal Bubar Sendiri

Media Indonesia, 23 Desember 2010

Penulis : Anata Syah Fitri

MediaIndonesiaJAKARTA–MICOM: Koalisi  partai dalam sekretariat gabungan (setgab) saat ini adalah koalisi yang rapuh dan tak solid karena transaksional politis sehingga rapuh dan  hanya berdasarkan pada kepentingan poltik masing masing parpol anggota  koalisi. Ketua Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti mengatakan,  keberadaan setgab saat ini hanya tinggal menunggu waktu menuju bubar.

“Tak usah dibubarkan pun akan bubar dengan sendirinya, tinggal menunggu  waktu saja. Kalau kita lihat, mereka sekarang bertahan hanya karena  para petinggi partainya masih berada dalam pemerintahan Tapi dalam  tubuh partai sendiri, sudah tidak sesuai dengan koalisi,” papar Ray di Jakarta, Rabu (22/12).

Bubarnya  koalisi menurutnya, akan terjadi karena partai partai koalisi ingin  menyelamatkan kepentingan dan visi misi masing masing dalam pemilu ke  depan. “Kalau kita urutkan saja, lebih banyak perbedaan  suara dari pada persamaannya, mulai dari masalah Century, Yogyakarta, hingga kini masalah PT,” papar Ray.

Menurut Penasihat  Senior Kemitraaan Ramlan Surbakti, koalisi yang tak solid saat ini  telah menyebabkan devided government. Hal tersebut, menurutnya  disebabkan waktu penyelenggaraan pemilu eksekutif dan legislatif yang  terpisah.

Menurut mantan orang yang pernah duduk di KPU itu, solusi dari bentuk koalisi yang tak solid itu adalah dengan penyelenggaraan pemilu presiden dan DPRD yang serentak. “Pemilu  dipisah antara pemilu presiden dan lokal, tapi disamakan dengan pemilu  DPR. Dengan begitu, tersedia waktu yang memadai untuk membangun koalisi  yang solid, bukan yang transaksional seperti sekarang, karena hanya  punya waktu dua setengah bulan,” terang Ramlan.

Jika pemilu presiden, DPR, dan DPRD dilakukan bersamaan, Ramlan memperkirakan partai  koalisi dapat meyamakan visi misi. Selain itu, jeda waktu menuju  pertanggungjawaban parpol pun lebih singkat, yaitu dua setengah tahun,  bukan lima tahun seperti sekarang.

“Parpol akan ditantang, mereka akan takut oleh konstituen, karena hasil kerjanya akan dinilai bukan lima tahun setelahnya, tapi dua setengah tahun setelahnya,” ujar  Ramlan.  Dengan demikian kedaulatan rakyat lebih tinggi dalam memberikan  penilaian.

Anggota Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Eropa, Pipit R Kartawidjaja mengatakan, dengan
pemilu presiden yang serentak dengan pemilu legislatif, sistem  kepartaian akan lebih sederhana, sedangkan proses menjadi presiden  semakin mudah. (*/OL-2)

Print Friendly, PDF & Email

Tags: , , ,


Share
UA-74856012-1